Minggu, 16 Januari 2011

PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG DAMPAK PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA KURANG DARI 6 BULAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sejak seorang wanita memasuki kehidupan berkeluarga, harus sudah tertanam suatu keyakinan bahwa menyusui adalah realisasi dan tugas yang dimulai dari seorang ibu. Air Susu Ibu merupakan makanan yang paling cocok bagi bayi karena mempunyai nilai gizi yang paling tinggi. Pemberian ASI secara penuh sangat dianjurkan oleh para ahli gizi di seluruh dunia. Tidak satupun makanan pendamping ASI yang dapat mengganti perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi, seperti yang diperoleh dari kolostrum, yaitu ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran, kolostrum sangat besar manfaatnya sehingga pemberian ASI pada minggu-minggu pertama mempunyai arti yang sangat penting bagi perkembangan bayi (Krisnatuti, 2000).
Bayi seharusnya diberikan ASI eksklusif sejak bayi lahir sampai bayi berumur 6 bulan, karena ASI mengandung zat kekebalan. Oleh karena itu pengetahuan ibu menyusui tentang ASI eksklusif sangat penting agar ibu tidak memberikan makanan pendamping ASI (Gizi.Oline, 2006).
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) diberikan kepada bayi setelah berusia 4-6 bulan sampai bayi berusia 24 bulan. Jadi, selain MP-ASI, ASI pun harus tetap diberikan kepada bayi, paling tidak sampai usia 24 bulan. Adapun hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam pemberian makanan tambahan untuk bayi yaitu makanan bayi (termasuk ASI) harus mengandung semua zat gizi yang diperlukan oleh bayi, dan diberikan kepada bayi yang telah berumur 4-6 bulan sebanyak 4-6 kali/hari, sebelum berumur dua tahun, bayi belum dapat mengkonsumsi makanan orang dewasa, makanan campuran ganda (multi mix) yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, dan sumber vitamin lebih cocok bagi bayi (Krisnatuti, 2000).
Ada 2 resiko yang akan timbul bila bayi diberikan MP-ASI yaitu terjadinya resiko jangka panjang dan resiko jangka pendek. Pada resiko jangka panjang dapat terjadi obesitas, hipertensi raterosklerosis, alergi. Pada resiko jangka pendek dapat terjadi penurunan produksi ASI, anemia, gastroenteritis dan berbagai penyakit infeksi, seperti diare, batuk, pilek, radang tenggorokan dan gangguan pernafasan. (James Akre, 1993).
Keadaan kekurangan gizi pada bayi dan anak di sebabkan kebiasaan pemberian MP-ASI yang tidak tepat (Media indo online, 2006). Akibat rendahnya sanitasi dan hygiene MP-ASI memungkinkan terjadinya kontaminasi oleh mikroba, hingga meningkatkan resiko dan infeksi lain pada bayi, hasil penelitian widodo (2006) bahwa masyarakat pedesaan di Indonesia jenis MP-ASI yang umum diberikan kepada bayi sebelum usia 4 bulan adalah pisang (57,3%) dan rata-rata berat badan bayi yang mendapat ASI eksklusif lebih besar dari pada kelompok bayi yang diberikan MP-ASI (Depkes online, 2006)
Riset terbaru WHO pada tahun 2005 yang dikutip oleh Siswono (2006) menyebutkan bahwa 42% penyebab kematian balita di dunia adalah penyakit pneumonia sebanyak 58% terkait dengan malnutrisi, malnutrisi sering kali terkait dengan kurangnya asupan ASI (gizi online, 2006).
Di Propinsi Lampung pada tahun 2002 jumlah bayi yang ada sebesar 159.987 bayi, yang diberikan ASI eksklusif hanya 68.527 bayi atau 42,83% (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2003).
Berdasarkan hasil pra survey di Puskesmas ................ pada bulan Januari – Maret 2007, jumlah bayi berusia kurang dari 6 bulan sebanyak 161 bayi, yang diberi ASI Eksklusif adalah sebanyak 53 bayi (32%) dan yang tidak diberikan ASI eksklusif adalah sebanyak 108 bayi (68%). Dari hasil wawancara dengan 8 responden didapatkan bahwa 5 responden sudah memberikan MP-ASI sebelum bayi berusia kurang dari 6 bulan dan 3 orang belum mengerti tentang MP-ASI. Penyebab ibu sudah memberikan MP-ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan karena ibu sibuk bekerja dan kurangnya pengetahuan ibu tentang pemberian ASI eksklusif (James Akre, 1993).
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang bagaimana pengetahuan Ibu menyusui tentang dampak pemberian MP-ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan di Desa ................ wilayah kerja Puskesmas ................ .................

B. Rumusan Masalah
Dari uraian masalah diatas maka penulis membuat rumusan masalah “Bagaimana pengetahuan ibu menyusui tentang dampak pemberian makanan pendamping ASI pada bayi kurang dan 6 bulan”.

C. Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini, ruang lingkup penelitiannya adalah sebagai berikut:
1. Sifat penelitian : Deskriptif
2. Obyek penelitian : Pengetahuan ibu menyusui tentang dampak pemberian Makanan Pendamping ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan.
3. Subyek penelitian : Seluruh ibu menyusui yang memiliki bayi usia kurang dari 6 bulan dan yang telah memberikan makanan pendamping ASI.
4. Lokasi penelitian : Di Desa ................ wilayah kerja Puskesmas ................ Kabupaten .................
5. Waktu penelitian : 5 Mei-7 Juni 2007

D. Tujuan Penelitian
Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu tentang dampak pemberian Makanan Pendamping ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan di desa ................ puskesmas ................ Kabupaten .................


E. Manfaat Penclitian
1. Peneliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman untuk penerapan ilmu yang didapat selama kuliah dalam rangka pengetahuan ibu menyusui.
2. Seluruh Ibu menyusui di desa ................ puskesmas ................ Kabupaten .................
Hasil penelitian ini diharapkan meningkatkan pengetahuan ibu menyusui tentang dampak makanan pendamping ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan.
3. Institusi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi proses penelitian selanjutnya terutama yang berhubungan dengan dampak pemberian makanan pendamping ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Delete this element to display blogger navbar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls