Senin, 17 Januari 2011

GAMBARAN FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A DI KELURAHAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah gizi yang utama di Indonesia adalah kurang kalori protein (KKP), kekurangan vitamin A yang dapat mengakibatkan xeropthalmia (sakit mata karena kekurangan vitamin A) misalnya rabun senja dan kebutaan. Disamping itu masalah kekurangan vitamin A merupakan masalah terpenting kedua yang perlu diatasi, karena hal ini melanda penderita yang luas jangkauan, terutama anak-anak balita. (Winarno, 1995)
Hasil survei nasional xeropthalmia telah menurun dengan tajam 1,3% pada tahun 1978 menjadi 0,33 pada tahun 1992. Dari prevalensi tersebut masalah kurang vitamin A sudah tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat lagi. Namun demikian di beberapa propinsi masih menunjukkan prevalensi yang cukup tinggi seperti di Sulawesi Selatan 2,9% maluku 0,8% dan Sulawesi Tenggara 0,6%. (Depkes. RI., 2000)
Masalah kurang vitamin A subklinis dibeberapa propinsi masih cukup memprihatinkan, karena 50% Balita masih mempunyai status vitamin A rendah. Kurang vitamin A akan mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh terhadap penyakit yang berpengaruh pada kelangsungan hidup anak. Penanggulangan masalah kurang vitamin A saat ini bukan hanya untuk mencegah kebutaan, tetapi juga dikaitkan dengan upaya memacu pertumbuhan dan kesehatan anak guna menunjang penurunan angka kematian bayi dan berpotensi terhadap peningkatan produktifitas kerja orang dewasa. (Depkes. RI., 2000)
Strategi penanggulangan kurang vitamin A masih bertumpu pada pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi, yang diberikan pada bayi (6–11 bulan), balita (1–5 tahun) dan ibu nifas. Berdasarkan laporan tahun 1998/1999, cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita masih di bawah 70% (Depkes. RI., 2000).
Situasi tidak tercapainya cakupan program pemberian kapsul vitamin A pada anak balita terjadi di sejumlah puskesmas di Kota Bandar Lampung pada tahun 2003 menunjukkan cakupan program pemberian kapsul vitamin A tidak mencapai terget 80 % (Propil Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, 2003).
Berdasarkan data prasurvey yang dilakukan penulis di salah satu puskesmas di Kota Bandar Lampung yaitu wilayah kerja Puskesmas ............... didapat data tentang jumlah anak balita yang mendapat kapsul vitamin A pada tahun 2003 adalah sebagai berikut :
Tabel 1 : Persentasi Cakupan Program Pemberian Kapsul Vitamin A di Wilayah Kerja Puskesmas ............... Tahun 2003

No Kelurahan Jumlah
Anak Balita Jumlah yang mendapat Vit A Target (%) Realisasi (%)
1
2
3
4
5
6
7 ...............
Tanjung Agung
Sawah lama
Kebon Jeruk
Kedamaian
Campang Raya
Jaga Baya I 942
733
620
712
1141
601
133 627
488
431
483
844
418
97 80
80
80
80
80
80
80 66,5
66,6
69,4
67,6
73,9
69,5
72,3
Jumlah 4882 3388 80 69,4
Sumber Data : Laporan Bulanan Puskesmas ................

Berdasarkan data yang diperoleh di atas dapat disimpulkan bahwa anak balita yang mendapatkan kapsul vitamin A belum optimal di wilayah kerja Puskesmas ............... tahun 2003 sebanyak 3.388 (69,4%) anak balita dari 4.882 jumlah anak balita yang ada, sedangkan di Kelurahan ............... yang mendapatkan kapsul vitamin A 627 (66,5%) dari 942 anak balita yang ada, sehingga penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi ibu dalam pemberian kapsul Vitamin A di Kelurahan ............... wilayah kerja Puskesmas ................

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut : “Faktor-faktor apa yang mempengaruhi ibu dalam pemberian kapsul vitamin A di Kelurahan ............... wilayah kerja Puskesmas ............... ?

C. Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Sifat Penelitian : Penelitian bersifat deskriptif
2. Subyek Penelitian : Ibu-ibu yang mempunyai anak balita di Kelurahan ...............
3. Obyek Penelitian : Faktor-faktor yang mempengaruhi ibu dalam pemberian kapsul vitamin A di Kelurahan ............... wilayah kerja Puskesmas ...............
4. Lokasi Penelitian : Wilayah kerja Puskesmas ………… yaitu Kelurahan ……
5. Waktu Penelitian : Tanggal 15 Mei s/d 24 Mei 2004

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi ibu dalam pemberian kapsul vitamin A di Kelurahan ...............
2. Tujuan khusus
a. Diketahuinya gambaran faktor informasi yang mempengaruhi ibu dalam pemberian kapsul vitamin A di Kelurahan ...............
b. Diketahuinya gambaran faktor petugas yang mempengaruhi ibu dalam pemberian kapsul vitamin A di Kelurahan ...............
c. Diketahuinya gambaran faktor pendidikan yang mempengaruhi ibu dalam pemberian kapsul vitamin A di Kelurahan ...............
d. Diketahuinya gambaran faktor kebudayaan yang mempengaruhi ibu dalam pemberian kapsul vitamin A di Kelurahan ...............
e. Diketahuinya gambaran faktor dukungan keluarga yang mempengaruhi ibu dalam pemberian kapsul vitamin A di Kelurahan ...............

E. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan diperoleh beberapa manfaat, diantaranya yaitu :
1. Bagi Puskesmas
Agar dapat meningkatkan keberhasilan program pemberian kapsul vitamin A di wilayah kerjanya.
2. Bagi ibu Balita
Sebagai masukan pada ibu balita agar lebih mengerti pentingnya vitamin A terhadap anak Balita
3. Bagi penelitian selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dikembangkan dan tidak tertutup kemungkinan untuk diterapkan dan dijadikan sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya
4. Bagi penulis
Penelitian ini merupakan media berlatih yang sangat baik untuk menambah wawasan dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dalam melakukan penelitian
5. Bagi Institusi pendidikan
Dapat dijadikan bahan masukan dan pengembangan materi.

DETERMINAN IBU TIDAK MENIMBANGKAN BALITANYA DI POSYANDU

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Disaat kondisi krisis ekonomi yang melanda negara saat ini, perlu diperhatikan secara khusus masalah pembinaan dan pengembangan anak, sebagai salah satu sasaran utama pembangunan manusia seutuhnya. Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita, karena pada masa ini merupakan pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya.
Program pembangunan kesehatan yang dilaksanakan selama ini telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang ditandai dengan menurunnya angka kematian bayi (AKB) di Indonesia tahun 1999 sebanyak 46 per 1000 kelahiran hidup mengalami penurunan pada tahun 2000 menjadi 44 per 1000 kelahiran hidup, angka kematian balita (AKABA) pada tahun 1999 sebanyak 59,55 per 1000 kelahiran hidup mengalami penurunan pada tahun 2000 menjadi 44,7 per 1000 kelahiran hidup (SUSENAS, 2000). Di Provinsi Lampung sendiri AKB tahun 2000 sebanyak 49 per 1000 kelahiran hidup mengalami penurunan pada tahun 2001 menjadi 41 per 1000 kelahiran hidup, AKABA pada tahun 1995 sebanyak 75 per 1000 kelahiran hidup menjadi 43 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1997 (Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, 2002).
Untuk meningkatkan status kesehatan, pemerintah telah menyelenggarakan pusat pelayanan kesehatan, yang dikenal dengan Puskesmas. Puskesmas merupakan pusat pelayanan kesehatan primer yang dilengkapi dengan posyandu-posyandu. Hal ini bertujuan agar masyarakat mendapat pelayanan yang mudah dijangkau. Posyandu merupakan tempat kegiatan terpadu program KB-Kesehatan di tingkat desa yang telah dilaksanakan sejak tahun 1984 dan pada saat ini telah tercatat sebanyak 243.783 posyandu dengan jumlah kader aktif sebanyak 1.078.208 orang yang tersebar di 52.000 desa di Indonesia (DepKes RI, 2000).
Data Provinsi Lampung pada tahun 2001, cakupan penimbangan balita yaitu balita yang ditimbang dibagi jumlah sasaran (D/S) pada bayi mencapai 69,36 %, anak balita 48,14 % , untuk cakupan bayi yang mengalami kenaikan berat badan dibagi jumlah sasaran (N/D) sudah cukup baik, yaitu pada bayi cakupannya mencapai 92,35 % dan pada anak balita mencapai 73,51 % (Dinkes Provinsi Lampung, 2002).
Kelurahan ............... Barat merupakan bagian dari 22 kelurahan yang berada di Kecamatan Metro Pusat. Di kelurahan ............... Barat terdapat 12 posyandu yang tersebar di 9 lingkungan. Jumlah bidan yang ada 4 orang dan jumlah kader 60 orang, namun berdasarkan survey di lokasi, diperoleh data bahwa cakupan penimbangan balita di Posyandu Melati Kelurahan ............... Barat hanya berkisar (D/S) 30 % atau 28 orang dari 93 orang balita, jumlah ibu yang mempunyai balita yaitu 49 orang dan yang menimbangkan balitanya 18 orang sehingga terdapat 31 ibu yang tidak menimbangkan balitanya ke posyandu. Target penimbangan balita adalah 80 % (Puskesmas Pembantu ..............., 2003).
Untuk meningkatkan derajat kesehatan yang optimal perlu ditingkatkan pelayanan kesehatan pada bayi dan balita. Pelayanan yang dimaksud adalah penimbangan balita, pelayanan gizi, pencegahan terhadap penyakit, pengobatan ringan, penyuluhan kesehatan, serta pemberian vitamin A setiap 6 bulan sekali di posyandu, untuk itu perlu dicari faktor-faktor yang melatarbelakangi masyarakat enggan datang ke posyandu, sehingga peneliti ingin mengetahui “Determinan Ibu Tidak Menimbangkan Balitanya di Posyandu Melati Kelurahan ............... ........tahun 2004.”

B. Rumusan Masalah
Dari data yang ada, maka masalah dalam penelitian ini adalah : “Apa Determinan Ibu Tidak Menimbangkan Balitanya di Posyandu Melati Kelurahan ............... ............... ? “

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini adalah :
a. Sifat Penelitian : Deskriptif
b. Objek Penelitian : Determinan Ibu tidak menimbangkan balitanya di Posyandu Melati Kelurahan ............... ...............
c. Subjek Peneltian : Ibu-ibu yang tidak menimbangkan balitanya di Posyandu Melati Kelurahan ............... ...............
d. Lokasi Penelitian : Posyandu Melati Kelurahan ............... ...............
e. Waktu Penelitian : Setelah Proposal diseminarkan dan disetujui tanggal 14 s.d 31 Mei 2004





D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui determinan ibu tidak menimbangkan balitanya di Posyandu Melati Kelurahan ............... ............... Tahun 2004
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya determinan pendidikan terhadap ibu tidak menimbangkan balitanya di posyandu.
b. Diketahuinya determinan ekonomi terhadap ibu tidak menimbangkan balitanya di posyandu.
c. Diketahuinya determinan pekerjaan terhadap ibu tidak menimbangkan balitanya di posyandu.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Menambah pengalaman dalam penelitian serta sebagai bahan untuk penerapan ilmu yang telah didapat selama perkuliahan

2. Bagi Puskesmas ............
Sebagai bahan masukan tentang cakupan penimbangan di posyandu, partisipasi masyarakat terhadap penimbangan dan sebagai bahan masukan bagi puskesmas ............... untuk perencanaan kegiatan di masa mendatang.

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG MENARCHE DI SMP

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dilihat dari segi penduduk, Indonesia menempati urutan nomor 5 didunia dalam hal jumlah penduduk, dengan remaja sebagai bagian dari penduduk yang ada. Propinsi Lampung pada tahun 2000 di huni oleh 6,654 juta jiwa dengan jumlah remaja usia 10 – 15 tahun sebanyak 652.322 jiwa (Hasil Sensus BPS Lampung, 2000).
Masa remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan manusia yang sering disebut sebagai masa pubertas yaitu masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa. Pada tahap ini remaja akan mengalami suatu perubahan fisik, emosional dan sosial sebagai ciri dalam masa pubertas. Dan dari berbagai ciri pubertas tersebut, menarche merupakan perbedaan yang mendasar antara pubertas pria dan pubertas wanita. Menarche adalah saat haid/menstruasi yang datang pertama kali yang sebenarnya merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaja putri yang sedang menginjak dewasa dan sebagai tanda bahwa ia sudah mampu hamil. Namun perlu diingat bahwa jiwa remaja masih belum stabil dan belum mampu mendiri secara ekonomi maupun sosial. Jadi ia belum siap untuk hamil. Yang terbaik adalah remaja putri mempersiapkan diri untuk mandiri, mencapai tingkat pendidikan yang diwajibkan yaitu paling sedikit 9 tahun, memasuki pernikahan yang direstui orang tua dan masyarakat, kemudian merencanakan kehamilan pada usia yang tepat yaitu usia 20 – 30 tahun (Llewellyn – Jones, 1997).
Usia remaja putri saat mengalami menarche bervariasi lebar, yaitu antara usia 10 – 16 tahun, tetapi rata-rata pada usia 12,5 tahun. Statistik menunjukkan bahwa usia menarche dipengaruhi faktor keturunan, keadaan gizi dan kesehatan umum (Sarwono, 1999).
Pada umumnya remaja putri belajar tentang haid dari ibunya, tapi sayang tidak semua ibu memberikan informasi yang memadai kepada putrinya bahkan sebagian enggan membicarakan secara terbuka sampai putrinya mengalami menarche. Sehingga hal ini menimbulkan kecemasan pada anak, bahkan sering tumbuh keyakinan bahwa haid itu sesuatu yang tidak menyenangkan atau serius. Dengan kata lain, dia mengembangkan sikap negatif tentang haid. Ia mungkin merasa malu dan melihatnya sebagai penyakit. Khususnya jika ketika mengalaminya ia merasa letih atau terganggu (Llewellyn – Jones, 1997).
Bila orang tua kurang mengerti dan kurang memperhatikan jiwa remaja maka akan timbul perselisihan paham antara remaja dan orang tua. Sehingga untuk mengatasinya perlu diusahakan pendekatan sebaik – baiknya mengenai remaja (Purwoko, 2002).
Sejak tahun 2000, pemerintah mencanangkan suatu program yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi remaja yang sasarannya adalah siswa SLTP, SLTA dan Remaja Karang Taruna. Pelaksanaan program ini secara lintas sektoral instansi pemerintah dan swasta seperti Pemda, Dinas Kesehatan, BKKBN, Polri dan LSM yang berasal dari masyarakat itu sendiri dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan remaja tentang kesehatan reproduksi dan penyakit menular seksual.
Dari hasil prasurvei terdapat 94 remaja putri siswi kelas I di SMP ................ Saat 5 orang siswi di tanya tentang menarche mereka menjawab belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang menarche, dan 3 orang siswi diantaranya menyatakan belum pernah diberi informasi tentang menarche oleh orang tua mereka.
Berdasarkan fenomena di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menarche di SMP ................

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menarche di SMP ...............?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup yang diteliti sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif.
2. Subyek Penelitian
Remaja putri siswi kelas I SMP ................
3. Obyek Penelitian
Pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menarche.

4. Lokasi penelitian
Di SMP ................
5. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2004.

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menarche di SMP ................

2. Tujuan Khusus
a. Untuk memperoleh gambaran pengetahuan remaja putri tentang menarche di SMP ................
b. Untuk memperoleh gambaran sikap remaja putri tentang menarche di SMP ................

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
1. Bagi Institusi Pendidikan Program Studi Kebidanan …………...
Dapat menambah wawasan bagi mahasiswa dan sebagai bahan bacaan di perpustakaan atau referensi.
2. Bagi SMP Negeri ...............
Sebagai masukan informasi bagi sekolah mengenai pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menarche.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat memberikan masukan hal-hal apa saja yang telah diteliti sehingga digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.

PENGETAHUAN WANITA PRA-MENOPAUSE TENTANG GEJALA-GEJALA FISIK MENOPAUSE DI KELURAHAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa seringkali dilihat dari angka harapan hidup penduduknya. Menurut data hasil Sensus Penduduk Indonesia tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik, jumlah perempuan sebanyak 102,8 juta jiwa. Usia harapan hidup untuk perempuan rata-rata 66 tahun dan laki-laki 62 tahun (Hendita, 2002).
Kesehatan reproduksi merupakan suatu keadaan sejahtera fisik, mental, sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit/kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan reproduksi fungsi serta prosesnya (WHO, 1992). Kesehatan reproduksi bukan hanya membahas masalah kehamilan atau kemandulan tetapi mencakup seluruh siklus kehidupan perempuan yang salah satunya adalah menopause.
Menopause merupakan transisi fisik alamiah yang dialami oleh setiap wanita saat dia bertambah umur. Sering diterjemahkan secara bebas sebagai berhentinya menstruasi terakhir dalam hidup seorang wanita. Beberapa wanita mengalami menopause sebagai transisi yang mulus dengan sedikit ketidaknyamanan fisik, dimana beberapa wanita yang lain mengalami banyak gejala-gejala yang tidak nyaman seperti rasa panas, keringat tengah malam, perdarahan berat tidak teratur, pengeroposan tulang dan pengeringan vagina (Satumed.com, 2004).
Sebanyak 80 % wanita mengalami menopause dengan reaksi negatif. Wanita mengalami gejala yang lebih buruk lagi bila mereka tengah berada dibawah stress emosi yang sangat kuat atau mempunyai kebiasaan makan tertentu yang melibatkan kafein dalam jumlah besar, gula atau konsumsi alkohol, kira-kira 40% wanita tersebut gejalanya menjadi sangat besar sehingga mereka mencari pertolongan medis (Satumed.com, 2004).
Terganggunya atau sampai hilangnya proses haid merupakan masalah normal yang sadar atau tidak sadar akan dilalui oleh wanita dalam kehidupannya. Memasuki usia dekade 40-an dianggap bagi wanita sebagai akhir dari segalanya karena menjadi tua seringkali amat traumatis bagi kebanyakan wanita. Mereka merasa rendah diri karena merasa tidak cantik lagi dan rasa takut kehilangan suami. Beberapa wanita merasa takut akan datangnya menopause karena akan membuat mereka merasa tidak menarik, kesepian, tak berguna dan tak berdaya. Mereka juga berduka karena tidak subur dan muda lagi (Rachman, 2000).
Karena menopause merupakan masalah normal sedangkan penerimaannya berbeda-beda maka alangkah baiknya apabila gejala-gejala menopause diketahui secara jelas oleh setiap wanita sebelum mereka memasuki masa menopause. Dengan memahami gejala-gejala tersebut diharapkan wanita tersebut dapat mengerti apa yang sedang terjadi didalam diri mereka (Kuntjoro, 2002).
Berdasarkan studi pendahuluan di Kelurahan ............... terdapat jumlah wanita berdasarkan golongan umur 46 – 50 tahun yaitu 317 orang. Dari hasil wawancara yang penulis lakukan pada wanita pra-menopause tersebut ternyata masih ada sebagian wanita pra-menopause (12 orang) yang belum mengerti tentang gejala-gejala fisik menopause.
Oleh sebab itu penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengetahuan wanita pra-menopause tentang gejala-gejala fisik menopause di Kelurahan ................
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut :
“Bagaimanakah pengetahuan wanita pra-menopause tentang gejala-gejala fisik menopause di Kelurahan ...............”.

C. Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini penulis memberi ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian
Penelitian Deskriptif
2. Objek Penelitian
Pengetahuan wanita pra-menopause tentang gejala-gejala fisik menopause.
3. Subjek Penelitian
Seluruh wanita pra-menopause di Kelurahan ................
4. Lokasi Penelitian
Kelurahan ................
5. Waktu Penelitian
Setelah ujian proposal bulan Mei 2004

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum penelitian ini adalah diketahuinya gambaran pengetahuan wanita pra-menopause tentang gejala-gejala fisik menopause.
2. Tujuan khusus penelitian ini yaitu :
a. Diketahuinya pengetahuan wanita pra-menopause tentang ketidakteraturan siklus haid
b. Diketahuinya pengetahuan wanita pra-menopause tentang rasa panas (hot flash)
c. Diketahuinya pengetahuan wanita pra-menopause tentang kekeringan liang senggama (vagina)
d. Diketahuinya pengetahuan wanita pra-menopause tentang perubahan kulit
e. Diketahuinya pengetahuan wanita pra-menopause tentang pengeroposan tulang (osteoporosis)
f. Diketahuinya pengetahuan wanita pra-menopause tentang sembelit (obstipasi)
g. Diketahuinya pengetahuan wanita pra-menopause tentang perubahan saluran kencing
h. Diketahuinya pengetahuan wanita pra-menopause tentang perubahan payudara

E. Manfaat Penelitian

1. Untuk Wanita Pra-Menopause
Informasi yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman secara benar tentang gejala-gejala fisik menopause, sehingga membantu ibu mempersiapkan diri dalam memasuki masa menopause.

2. Untuk Petugas Kelurahan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan penyuluhan kepada wanita pra-menopause tentang gejala-gejala fisik menopause.
3. Untuk Institusi
Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan kajian terhadap teori yang telah diperoleh mahasiswi selama mengikuti kegiatan belajar mengajar di Politeknik Kesehatan …………….. sekaligus sebagai bahan bacaan di perpustakaan institusi pendidikan

4. Untuk Peneliti
Penelitian ini sangat berguna untuk menambah pengalaman dalam penelitian serta sebagai bahan untuk menerapkan ilmu yang telah didapat selama kuliah khususnya materi kesehatan reproduksi wanita dan metodologi penelitian.

DETERMINAN PEMANFAATAN TENAGA BIDAN DESA DALAM PERTOLONGAN PERSALINAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Angka kematian bayi (AKB), angka kematian ibu (AKI), dan angka harapan hidup merupakan indikator yang menggambarkan derajat kesehatan masyarakat. Diantara negara – negara ASEAN dan Jepang pada tahun 1999, Kamboja merupakan negara dengan AKB tertinggi yaitu 104 per 1000 kelahiran hidup (KH), sedangkan Indonesia merupakan peringkat ke 4 yaitu 46 per 1000 KH (Depkes RI, 2000). Menurut laporan UNICEF pada periode 1990 – 1998 Indonesia, Bangladesh dan India merupakan negara – negara dengan AKI yang cukup tinggi, yaitu masing – masing 450, 450 dan 410 per 100.000 KH (Depkes RI, 2000). Menurut Saifuddin (2002) sampai dengan saat ini angka kematian Maternal dan Neonatal di Indonesia adalah 334 per 100.000 KH dan 21,8 per 1.000 KH, sedangkan AKB tahun 2000 menurut Depkes RI (2002) sebesar 44 per 1.000 KH.
Tidak semua kehamilan berakhir dengan persalinan yang berlangsung normal, 30,7 % persalinan disertai dengan komplikasi, dimana bila tidak ditangani dengan cepat dan baik dapat meningkatkan kematian ibu (Depkes RI, 2000). Yang menjadi penyebab kematian ibu di negara berkembang yang berhubungan dengan kehamilan adalah : 1) perdarahan 40 – 60 %, 2), Toksemia Gravidarum 20 – 30 % dan 3) Infeksi 20 – 30 % (Hartanto, 2002).

Menurut Hartanto (2002) problem – problem di negara berkembang adalah :
1. Sebagian besar ibu – ibu melahirkan dirumah.
2. Kurang dari 50 % kelahiran ditolong oleh petugas kesehatan yang terlatih.
3. Sejumlah substansial kematian ibu terjadi pada tingkat masyarakat.
4. Fasilitas kesehatan di daerah pedesaan terisolasi karena kurangnya infrastruktur dan komunikasi.
5. Keterbatasan jumlah dokter dan penyebaran yang tidak merata dari sumber – sumber kesehatan terutama di daerah pedesaan.
Kejadian tingginya angka kematian dan orientasi masyarakat menuju pertolongan dukun disebabkan 2 hal penting yaitu kemiskinan dan kurangnya pengetahuan khususnya dalam bidang reproduksi wanita (Manuaba, 1998). Dominannya pertolongan pada dukun beranak terutama didaerah pedesaan sekitar 65 – 75 % (Manuaba, 1998). Hal inilah yang menyebabkan tingginya AKI dan AKB di negara – negara yang sedang berkembang.
Pada tahun 1990 WHO meluncurkan strategi Making Pregnancy Safer (MPS) oleh badan – badan Internasional seperti UNFPA, UNICEF, dan World Bank. Pada dasarnya MPS meminta perhatian pemerintah dan masyarakat disetiap negara untuk :
a. Menempatkan Safe Motherhood sebagai prioritas utama dalam rencana pembangunan Nasional dan Internasional.
b. Menyusun acuan nasional dan standar pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
c. Mengembangkan sistem yang menjamin pelaksanaan standar yang telah disusun.
d. Memperbaiki akses pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, keluarga berencana, aborsi legal, baik publik maupun swasta.
e. Meingkatkan upaya kesehatan promotif dalam kesehatan maternal dan neonatal serta pengembalian fertilitas pada tingkat keluarga dan lingkungannya.
f. Memperbaiki sistem monitoring pelayanan kesehatan maternal dan neonatal (Saifuddin, 2001)
Didalam rencana strategi nasional MPS di Indonesia 2001 – 2010 disebutkan bahwa dalam konteks Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010, visi MPS adalah “kehamilan dan persalinan di Indoneisa berlangsung aman, serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat” (Saifuddin, 2002). Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah menurunkan AKI menjadi 125 per 100.000 KH dan angka kematian neonatal menjadi 16 per 1000 KH (Saifuddin, 2002). Salah satu faktor penting dalam upaya penurunan angka kematian tersebut yaitu penyediaan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang berkualitas dekat dengan masyarakat (Saifuddin, 2002).
Sembilan puluh persen kematian ibu terjadi di saat sekitar persalinan dan kira – kira 95 % penyebab kematian ibu adalah komplikasi obstetri yang sering tidak dapat diperkirakan sebelumnya, maka kebijakan Departemen Kesehatan RI untuk mempercepat penurunan AKI adalah mengupayakan agar : 1) setiap persalinan ditolong atau minimal didampingi oleh bidan dan 2) pelayanan obstetri sedekat mungkin kepada semua ibu hamil. Salah satu upaya terobosan yang cukup mencolok untuk mencapai keadaan tersebut adalah pendidikan sejumlah 54.120 bidan yang ditempatkan di desa selama 1989/1990 sampai 1996/1997 (Saifuddin, 2001).
Menurut data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Lampung tahun 2002, jumlah pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 1999 adalah 116.317 (69,14%), sedangkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas ............... tahun 2003 sampai dengan bulan Desember 2003 adalah seperti terlihat pada tabel 1.
Tabel 1. Pertolongan Persalinan Dari Bulan Januari – Desember 2003
No. Bulan Pertolongan Persalinan
Nakes Bidan Desa Dukun
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12. Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember 2
1
1
2
0
3
5
1
5
6
7
3 18
32
22
27
24
29
17
26
13
15
15
11 9
10
8
10
3
16
11
6
28
10
20
21
Jumlah 36 249 152
Persentase 7,14 % 49,40 % 30,16 %
Sumber : PWS KIA Puskesmas ...............

Berdasarkan pra survei yang penulis lakukan, wilayah kerja puskesmas ............... terdiri dari 18 desa dengan jumlah penduduk ± 20.245 jiwa. Wilayah kerja Puskesmas ...............masih termasuk daerah terpencil, jauh dari pusat kota dan tempat rujukan. Tingkat ekonomi masyarakat masih menengah kebawah dimana sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah petani. Tingkat daya beli tehadap produk jasa pelayanan bidan masih rendah. Dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui gambaran mengenai determinan pemanfaatan tenaga bidan desa dalam pertolongan persalinan di wilayah kerja Puskesmas ................

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di latar belakang penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut : “Apa yang menjadi determinan terhadap pemanfaatan tenaga bidan desa dalam pertolongan persalinan di wilayah kerja Puskesmas ...............?“.

C. Ruang Lingkup
Pada penelitian ini penulis ingin melihat gambaran mengenai determinan pemanfaatan tenaga bidan desa dalam pertolongan persalinan. Metode yang digunakan adalah Deskriptif, yaitu dengan menjelaskan determinan pemanfaatan tenaga bidan desa dalam pertolongan persalinan. Subjek penelitian adalah ibu –ibu yang baru bersalin di bidan desa di wilayah kerja Puskesmas ............... yang bersalin dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2003, dan yang menjadi objek penelitian adalah determinan pemanfaatan tenaga bidan desa dalam pertolongan persalinan dengan variabel penelitian tingkat pendidikan, tingkat ekonomi (pendapatan) dan jarak ke tempat bidan. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember 2003 sampai dengan bulan Maret 2004.


D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran mengenai determinan pemanfaatan tenaga bidan desa dalam pertolongan persalinan.

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah :
a. Diketahuinya peranan faktor pendidikan terhadap pemanfaatan tenaga bidan desa dalam pertolongan persalinan.
b. Diketahuinya peranan faktor ekonomi terhadap pemanfaatan tenaga bidan desa dalam pertolongan persalinan.
c. Diketahuinya peranan faktor jarak ke tempat bidan terhadap Pemanfaatan tenaga bidan desa dalam pertolongan persalinan.

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi Puskesmas/bidan desa di Puskesmas ................
Sebagai bahan evaluasi bagi Puskesmas/bidan desa agar dapat mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan cakupan persalinan oleh bidan desa.

2. Manfaat bagi penulis
Sebagai sarana untuk menerapkan ilmu yang telah didapatkan di bangku kuliah, serta mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama pendidikan
3. Manfaat Bagi Institusi Pendidikan.
Sebagai sumber bacaan perpustakaan di institusi pendidikan

4. Manfaat bagi peneliti selanjutnya.
Sebagai bahan referensi untuk penelitian yang sejenis selanjutnya.

PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN BIDAN TENTANG MANAJEMEN AKTIF KALA III

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tolak ukur keberhasilan dari kemampuan pelayanan kesehatan satu negara diukur dengan angka kematian ibu. Indonesia termasuk negara dengan angka kematian ibu yang cukup tinggi bahkan tertinggi di ASEAN, yaitu sekitar 390 per 100.000 kelahiran hidup. AKI bervariasi diberbagai daerah dengan rentangan 330-700/100.000 kelairan hidup. Persalinan di Indonesia diperkirakan 5.000.000 pertahun, AKI 18.000 – 20.000 pertahun atau 53-55 perhari atau setiap 25-30 menit sekali (Manuaba, 2001).
Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan 60-70% masih menduduki urutan pertama, disusul dengan pre eklampsia dan eklampsia 10-20%, infeksi 10-20% termasuk partus terlantar, lainnya emboli air ketuban dan anestesi. Dalam hal ini pemerintah telah mencanangkan upaya agar dapat mencapai penurunan AKI 225 per 100.000 persalinan pada akhir Pelita VI (Manuaba, 2001). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Tingkat I Lampung (2001) AKI di Lampung sebesar 1.056 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian ibu di Propinsi Lampung yaitu perdarahan 43,24% (Profil Dinas Kesehatan Tingkat I, 2002).
Perdarahan pasca persalinan sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan perdarahan antepartum. Sebagian besar kematian ibu yang terjadi saat pertolongan pertama, sehingga masih mempunyai peluang yang besar untuk dapat melakukan pertolongan yang adekuat untuk menurunkannya. Waktu yang paling kritis untuk terjadinya perdarahan adalah ketika pelepasan plasenta dan segera setelah itu. Hal ini disebabkan karena terputusnya pembuluh darah tempat berimplantasinya plasenta. Salah satu langkah mempercepat kelahiran plasenta dan dapat mencegah atau mengurangi perdarahan post partum adalah manajemen aktif kala III persalinan, dimana tindakan tersebut meliputi pemberian oksitosin segera setelah bayi lahir, penegangan tali pusat terkendali, dan pemijatan uterus segera setelah plasenta lahir (Saifuddin, 2001).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan di Dinas Kesehatan Kota Metro Desember 2002 – November 2003 ditemukan angka kejadian kematian ibu sebanyak 96 per seratus ribu kelahiran atau 3 dari 3.212 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Kota Metro, 2002). Dari hasil prasurvey bulan Desember 2003 di wilayah Puskesmas ..............., ditemukan 5 dari 9 bidan belum melaksanakan manajemen aktif kala III secara baik dan benar. Keadaan ini menggambarkan bahwa pengetahuan dan keterampilan tentang manajemen aktif kala III masih kurang.
Dari uraian di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti gambaran pengetahuan dan keterampilan bidan tentang manajemen aktif kala III di wilayah Puskesmas ................

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : “Bagaimanakah pengetahuan dan keterampilan bidan tentang manajemen aktif kala III di wilayah Puskesmas ............... ?”
C. Ruang Lingkup Penelitian
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Objek Penelitian : Pengetahuan dan keterampilan bidan tentang manajemen aktif kala III.
3. Subjek Penelitian : Semua bidan di wilayah Puskesmas ............... Kecamatan Metro Selatan.
4. Tempat Penelitian : BPS di wilayah Puskesmas ................
5. Waktu Penelitian : 17 Mei 2004 – 30 Mei 2004

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Memperoleh gambaran pengetahuan dan keterampilan bidan tentang manajemen aktif kala III di Wilayah Puskesmas ................

2. Tujuan Khusus
a. Diperolehnya pengetahuan bidan tentang manajemen aktif kala III.
b. Diperolehnya keterampilan bidan tentang manajemen aktif kala III.

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi tempat penelitian (Puskesmas ...............)
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi Puskesmas ............... sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bidan tentang manajemen aktif kala III.
2. Manfaat bagi bidan yang ada di wilayah Puskesmas ................
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan dapat meningkatkan mutu pelayanan.

3. Manfaat bagi Institusi Pendidikan Kebidanan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan atau masukan untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan manajemen aktif kala III.

4. Manfaat bagi Peneliti
Sebagai penerapan dari perkuliahan metode penelitian yang didapat di Politeknik Kesehatan Program Studi Kebidanan …………...

TINJAUAN PELAKSANAAN KEGIATAN PONDOK SAYANG IBU (PSI) DI DESA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan ukuran penting dalam menilai keberhasilan pelayanan kesehatan dan Keluarga Berencana (KB) suatu negara. Mortalitas dan morbilitas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang, menurut laporan UNICEF di negara miskin sekitar 25% - 50% kematian wanita usia subur disebabkan karena komplikasi kehamilan, kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama kematian ibu karena tidak semua kehamilan berakhir dengan persalinan yang berlangsung normal, hal ini berdasarkan kenyataan bahwa lebih dari 90 % kematian ibu disebabkan komplikasi obstetri. Diperkirakan 15% kehamilan akan mengalami keadaan resiko tinggi dan komplikasi obstetri yang dapat membahayakan kehidupan ibu maupun janinnya bila tidak ditangani dengan memadai. AKI di Indonesia masih tinggi yaitu 334 per 100.000 kelahiran hidup (KH) dan AKB sebesar 21,8 per 1.000 KH (Saifuddin, 2002). Sedangkan AKI di Lampung juga masih tinggi selama tahun 2001 yaitu jumlah kematian maternal 111 dari 134.596 KH (83/100.000 KH), dan jumlah kematian bayi yaitu 4/1000 KH, (Dinas Kesehatan Propinsi ………….. , 2001).

Indonesia menempatkan penurunan AKI sebagai program prioritas mengingat kira-kira 90% kematian ibu terjadi di saat sekitar persalinan dan kira-kira 95% penyebab kematian ibu adalah komplikasi obstetri, maka kebijaksanaan Departemen Kesehatan untuk mempercepat penurunan AKI adalah mengupayakan agar : 1) setiap persalinan ditolong atau minimal didampingi oleh bidan dan pelayanan obstetri sedekat mungkin pada ibu hamil. Memperhatikan AKI dan AKB dapat dikemukakan bahwa : 1) sebagian besar kematian ibu dan perinatal terjadi saat pertolongan pertama, 2) pengawasan antenatal masih belum memadai sehingga menyulitkan kehamilan dengan resti tidak atau terlambat diketahui, 3) masih banyak di jumpai ibu dengan jarak kehamilan pendek, terlalu banyak anak, terlalu muda, dan terlalu tua untuk hamil, 4) jumlah anemia pada ibu hamil cukup tinggi, dan 5) pendidikan masyarakat yang rendah cenderung memilih pemeliharaan kesehatan secara tradisional (Manuaba, 1998).
Untuk menjawab permasalahan tersebut perlu diupayakan program yang memiliki daya ungkit besar dan dilaksanakan dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di masyarakat itu sendiri. Untuk itu digalakkan Gerakan Sayang Ibu (GSI) yang dirintis oleh Kantor Menteri Pemberdayaan Wanita pada tahun 1996. Ruang lingkup GSI meliputi advokasi dan mobilisasi sosial. Dalam pelaksanaannya GSI mempromosikan kegiatan yang berkaitan dengan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Kecamatan Sayang Ibu, untuk mencegah 3 keterlambatan yaitu: 1) keterlambatan di tingkat keluarga dalam mengenali tanda bahaya dan membuat keputusan untuk segera mencari pertolongan, 2) keterlambatan dalam mencapai fasilitas pelayanan kesehatan, dan 3) keterlambatan di fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapat pertolongan yang dibutuhkan. Kegiatan yang terkait dengan Kecamatan Sayang Ibu berusaha mencegah keterlambatan pertama dan kedua, sedang kegiatan yang terkait dengan Rumah Sakit Sayang Ibu adalah mencegah keterlambatan ketiga. Menanggapi masalah tersebut tim penggerak PKK Propinsi Lampung mengambil langkah dengan membentuk Pondok Sayang Ibu yang merupakan tempat penampungan sementara bagi ibu hamil yang beresiko tinggi atau ibu hamil lainnya yang membutuhkan pertolongan dalam menghadapi persalinannya (TP.PKK Propinsi Lampung, 1997)
Di Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus merupakan daerah terpencil dengan tingkat ekonomi menengah kebawah. Di wilayah kerja Puskesmas Putih Doh terdapat 3 desa yang memiliki PSI dan salah satunya adalah Desa ................ Dibanding dengan 2 desa lainnya yaitu : Desa Way Rilau dan Desa Tanjung Jati, Desa ............... merupakan desa yang sasaran ibu hamilnya lebih besar dengan perbandingan Desa ............... 43 orang, Desa Way Rilau 27 orang dan Desa Tanjung Jati 8 orang. Sedangkan perbandingan cakupan K1 (Kunjungan pertama ibu hamil) dari bulan Januari sampai bulan Agustus 2003 yaitu : Desa ............... 22 orang, Desa Way Rilau 15 orang dan Desa Tanjung Jati 5 orang. Adapun cakupan pelayanan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) di Desa ............... lainnya yaitu : K IV ada 15 orang, deteksi ibu hamil dengan resiko tinggi ada 3 orang, neonatus 20 orang dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan ada 20 orang. (Data Puskesmas Putih Doh tahun, 2003)
Menurut data pra survey yang dilakukan peneliti pada tanggal 3 November 2003, bahwa di Desa ............... selama tahun 2003 ini ada kematian ibu berjumlah 1 orang yang disebabkan karena perdarahan pada saat persalinan. Dan dari 8 standar kegiatan Pondok Sayang Ibu (PSI) yaitu: 1) membuat daftar seluruh ibu hamil yang ada di desa wilayah PSI, 2) menentukan status ibu hamil apakah kehamilannya beresiko tinggi, 3) membuat hari perkiraan ibu hamil, 4) menampung ibu hamil sementara sebelum dirujuk ke Rumah Sakit (RS), 5) melaksanakan piket kader PSI, 6) membuat daftar piket ambulan desa, 7) membuat daftar pendonor darah, dan 8) pembinaan / pertemuan ibu hamil. Yang dilakukan PSI di Desa ............... hanya 3 kegiatan atau 37,5 % yaitu : 1) menentukan status ibu hamil apakah kehamilannya beresiko tinggi, 2) membuat hari perkiraan ibu hamil, dan 3) membuat daftar piket ambulan desa.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik memilih judul penelitian yaitu Tinjauan Pengelolaan Pondok Sayang Ibu (PSI) di Desa ............... Wilayah kerja Puskesmas ................

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian masalah pada latar belakang, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut “Bagaimana Pelaksanaan kegiatan Pondok Sayang Ibu (PSI) di Desa ............... Wilayah Kerja Puskesmas ............... ?”

C. Ruang Lingkup Penelitian
Di dalam penulisan ini yang menjadi ruang lingkup dari penelitian tinjauan pengelolaan Pondok Sayang Ibu (PSI) adalah sebagai berikut :
1. Subjek penelitian : Pondok Sayang Ibu
2. Objek penelitian : Pelaksanaan kegiatan Pondok Sayang Ibu
3. Variabel penelitian : Pondok Sayang Ibu
4. Populasi : PSI di Desa ............... Wilayah kerja Puskesmas ...............
5. Lokasi Penelitian : Pondok Sayang Ibu (PSI) di Desa ............... Wilayah kerja Puskesmas ...............
6. Waktu penelitian : Dilakukan pada bulan Desember 2003 – Maret 2004

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan Pondok Sayang Ibu (PSI) di Desa ............... Wilayah kerja Puskesmas ................

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui :
a. Kegiatan yang dilakukan PSI di Desa ...............
b. Tenaga pelaksana PSI di Desa ...............
c. Peralatan yang ada di PSI di Desa ...............
d. Pendanaan PSI di Desa ...............
e. Pencatatan dan pelaporan yang dilakukan di PSI di Desa ...............




E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi pengelola PSI
Sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan di PSI bagi masyarakat di Desa ...............
2. Manfaat bagi Puskesmas
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan sebagai upaya dalam pembinaan dan pengelolaan PSI.
3. Manfaat bagi Penulis
Menambah pengetahuan penulis tentang penelitian PSI

Delete this element to display blogger navbar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls