Kamis, 16 Desember 2010

Gambaran karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Setiap wanita menginginkan persalinan berjalan lancar dan melahirkan bayi yang sempurna (Kasdu, 2003 : iii). Hal ini sesuai dengan Rencana Strategis Nasional yang terdapat dalam pesan kunci Making Pregnancy Safer (MPS) yaitu : setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, setiap komplikasi obstetrik dan neonatal mendapatkan pelayanan yang adekuat (Koesno, 2004 : 3 ). Namun, tidak jarang proses persalinan mengalami hambatan dan memerlukan penanganan dengan ekstraksi vakum.
Ekstraksi vakum merupakan tindakan obstetrik yang bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan sinergi tenaga mengedan ibu dan ekstraksi pada bayi (Saifuddin, 2002 : 494). Tindakan ini dilakukan untuk semua keadaan yang mengancam ibu dan janin yang memiliki indikasi untuk menjalani pelahiran pervaginam dengan bantuan alat (Hartanto, 2005 : 536). Indikasi dan syarat dari tindakan ini antara lain : pada palpasi abdomen kepala tidak teraba (0/5) atau teraba (1/5) sedangkan pembukaan sudah lengkap, keterlambatan pada kala II yaitu lebih dari 60 menit pada primigravida dan 30 menit pada multigravida, dan Ibu yang menderita kelainan atau penyakit yang melarangnya untuk mengeran (mengedan), misalnya pada penyakit jantung, hipertensi, asma, atau tuberkulosis berat (Depkes RI, 1995 : 6).
Angka kejadian pertolongan persalinan dengan ekstraksi vakum di RSU Dr. Soedono Madiun tahun 1998 sebanyak 522 (22%) diantara 2362 persalinan dan angka kejadian bedah caesar sebanyak 419 (17%) (Kalbefarma). Hasil studi pendahuluan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jendral ............ didapatkan data pada tahun 2006 terdapat 7,99% (37) kasus persalinan dengan ekstraksi vakum dari 463 persalinan normal (Medical Record, 2006). Ini berarti tindakan ekstraksi vakum masih sering dilakukan.
Penanganan persalinan dengan ekstraksi vakum mempunyai dampak terhadap ibu dan bayi. Pada ibu dapat terjadi robekan pada serviks uteri, robekan pada dinding vagina dan perenium. Ini dapat terjadi apabila pada pembukaan belum lengkap dilakukan ekstraksi. Sedangkan pada bayi dapat terjadi perdarahan dalam otak dan kaput suksedaneum artifisialis yang akan hilang sendiri setelah 24-48 jam. Untuk mengatasi hal itu maka tindakan ekstraksi vakum sebaiknya dilakukan oleh tenaga yang terampil dan berpengalaman (Depkes RI, 1995 : 10). Apabila tindakan ini dianggap tidak aman atau ekstraksi ini gagal dapat dilakukan seksio sesaria (Hartanto, 2005 : 551).
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : “Gambaran Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Ekstraksi Vakum di Rumah Sakit Umum Daerah Jendral RSUD ............ pada Tahun 2006”.


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut : “Bagaimana gambaran karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum di RSUD RSUD Kota ............ Tahun 2006 ?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi ruang lingkup penelitian sebagai berikut:
1. Jenis penelitian : deskriptif.
2. Subyek penelitian : ibu bersalin dengan ekstraksi vakum di RSUD
............ tahun 2006.
3. Obyek penelitian : karakteristik ibu-ibu bersalin dengan ekstraksi vakum di RSUD ............ yang meliputi: riwayat penyakit ibu, usia, paritas, dan lama persalinan kala II.
4. Lokasi penelitian : ruang kebidanan di RSUD ............
............ tahun 2006.
5. Waktu penelitian : bulan Mei tahun 2007.



D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum di Ruang Kebidanan RSUD ............ pada tahun 2006.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum berdasarkan riwayat penyakit ibu di Ruang Kebidanan RSUD ............ tahun 2006.
b. Untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum berdasarkan usia ibu di Ruang Kebidanan RSUD ............ tahun 2006.
c. Untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum berdasarkan paritas ibu di Ruang Kebidanan RSUD ............ tahun 2006.
d. Untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum berdasarkan lamanya persalinan pada kala II di Ruang Kebidanan RSUD ............ tahun 2006.


E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Sebagai bahan informasi untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tentang ekstraksi vakum dan karakteristik ekstraksi vakum dan karakteristiknya baik bagi ibu maupun bagi Prodi Kebidanan .............
2. Sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan mutu pelayanan Antenatal Care (ANC) khususya deteksi dini kehamilan dengan resiko tinggi yang dapat menyebabkan terjadinya persalinan dengan ekstraksi vakum bagi RSUD ............ dan Dinas Kesehatan Kota ............ pada khususnya serta tenaga kesehatan pada umumnya.
3. Mengembangkan pengetahuan penulis tentang ekstraksi vakum dan metode penelitian diskriptif tentang karakteristik resiko terjadinya persalinan dengan ekstraksi vakum.
4. Bagi peneliti lainnya, sebagai pertimbangan dan masukan untuk melakukan penelitian selanjutnya tentang ekstraksi vakum dengan jenis penelitian lain dan penambahan variabel penelitian yang lebih lengkap, dan metode penelitian yang berbeda.

Gambaran faktor-faktor penyebab terjadinya ketuban pecah dini

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tolak ukur keberhasilan dan kemampuan pelayanan kesehatan suatu negara diukur dengan angka kematian ibu dan angka kematian perinatal. Diseluruh dunia terdapat kematian ibu sebesar 500.000 jiwa pertahun dan kematian bayi khususnya 10.000.000 jiwa pertahun. Sebesar 99% terjadi di negara sedang berkembang (Manuaba, 1998:8).
Menurut hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003, angka kematian ibu di Indonesia sebesar 307 per 1000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Indonesia, 2005:16). Salah satu penyebab langsung kematian ibu adalah karena infeksi sebesar 20-25% dalam 100.000 kelahiran hidup (Manuaba, 1998:19). Di Provinsi Lampung tahun 2005 angka kematian ibu akibat infeksi sebesar 1,39% dari 100.000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Provinsi Lampung, 2005:60).
Ketuban pecah dini atau spontaneous/early/premature rupture of membran atau KPD merupakan penyebab yang paling sering terjadi pada saat mendekati persalinan. Kejadian Ketuban pecah Dini mendekati 10% dari semua persalinan. Pada umur kehamilan kurang dari 34 minggu kejadiannya sekitar 4% (Manuaba, 1998:229). Kemungkinan infeksi ini dapat berasal dari dalam rahim (intrauterine), biasanya infeksi sudah terjadi tetapi ibu belum merasakan adanya infeksi misalnya kejadian ketuban pecah dini. Hal ini dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas pada ibu dan janinnya (Mochtar, 1998:257).
Ketuban pecah dini bila dihubungkan dengan kehamilan preterm, ada resiko peningkatan morbiditas dan mortalitas perinatal akibat imaturatas janin, disamping itu bila kelahiran tidak terjadi dalam 24 jam juga terjadi resiko peningkatan infeksi intrauterine (Taber, 1994:368). Adapun komplikasi yang ditimbulkan dari ketuban pecah dini bagi ibu diantaranya pendarahan post partum, sedangkan pada janinnya diantaranya dapat terjadi intra uteri fetal death atau IUFD (Mochtar, 1998:258). Oleh karena itu, tatalaksana ketuban pecah dini memerlukan tindakan yang dapat menurunkan kejadian infeksi pada ibu dan janin (Manuaba, 1998:230).
Berdasarkan data yang didapat pada saat pra survey pada bulan Maret 2007 di Ruang Kebidanan RSUD ............, didapatkan bahwa kejadian ketuban pecah dini masih banyak dan datanya adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Jumlah klien ketuban pecah dini di Ruang kebidanan RSUD ............
pada bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2006

Bulan Rawat inap di RB RSUD A. Yani Pasien Ketuban Pecah Dini Persentase (%)
Januari 62 7 0.63
Februari 75 9 0,81
Maret 77 8 0,72
April 100 11 1,00
Mei 91 4 0,36
Juni 84 6 0,54
Juli 98 7 0,63
Agustus 90 4 0,36
September 112 7 0,63
Oktober 117 8 0,72
November 100 6 0,54
Desember 94 3 0,27
Jumlah 1100 80 7,27
Sumber: Buku Register Pasien di Rekam Medik RSUD ............ 2006
Mengamati dari tabel diatas dapat kesimpulan bahwa di Ruang kebidanan RSUD ............ dari bulan Januari sampai dengan Desember 2006 terdapat 80 pasien atau sebesar 7,27% yang dirawat dengan kasus ketuban pecah dini. Dimana kejadian ketuban pecah dini di Ruang Kebidanan RSUD ............ selalu ada disetiap bulannya. Adapun angka kejadian intra uteri fetal death (IUFD) di Ruang Kebidanan RSUD ............ tahun 2006 sebanyak 40 bayi dari 558 bayi lahir hidup, dan angka kejadian ibu yang mengalami pendarahan post partum sebanyak 66 ibu dari 592 ibu bersalin di Ruang Kebidanan RSUD ............ (Buku Register Pasien di Rekam Medik 2006).
Kejadian ketuban pecah dini terjadi sebelum proses persalinan, oleh karena itu penyebab ketuban pecah dini dapat berasal dari ibu atau janinnya. Menurut Manuaba (1998:229) penyebab ketuban pecah dini diantaranya kehamilan kembar, anemia dalam kehamilan selain itu kemungkinan yang menjadi penyebab yaitu kelainan letak yaitu letak sungsang dan letak lintang. Selanjutnya Taylor, dkk berpendapat pula bahwa faktor penyebab ketuban pecah dini juga diakibatkan oleh multipara karena tingginya jumlah paritas (Mochtar, 1998:256). Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang gambaran faktor-faktor terjadinya ketuban pecah dini di Ruang Kebidanan RSUD ............ tahun 2006.








B. Rumusan masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu “Bagaimanakah gambaran faktor-faktor penyebab terjadinya ketuban pecah dini di Ruang Kebidanan RSUD ............ tahun 2006 ?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini penulis membatasi lingkup penelitian sebagai berikut.
1 Jenis Penelitian : Deskriptif
2 Subjek Penelitian : Ibu yang bersalin dengan ketuban pecah dini di Ruang Kebidanan RSUD ............
3 Objek Penelitian : Faktor-faktor penyebab terjadinya ketuban pecah dini
4 Lokasi Penelitian : Ruang Kebidanan RSUD ............
5 Waktu Penelitian : Penelitian dilakukan 8 Mei 2007 sampai 7 Juni 2007

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya ketuban pecah dini di Ruang Kebidanan RSUD .............



2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya faktor ibu (anemi dalam kehamilan dan multipara) merupakan faktor penyebab terjadinya ketuban pecah dini di Ruang Kebidanan RSUD ............ tahun 2006.
b. Diketahuinya faktor janin (kehamilan kembar, dan kelainan letak meliputi letak sungsang dan letak lintang) merupakan faktor penyebab terjadinya ketuban pecah dini di Ruang Kebidanan RSUD ............ tahun 2006.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi petugas kesehatan di Ruang Kebidanan RSUD ............
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam rangka peningkatan upaya penanganan khususnya Ketuban Pecah Dini di Ruang Kebidanan RSUD .............
2. Institusi Pendidikan Prodi Kebidanan ............
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan/referensi khususnya hal-hal yang berkaitan dengan ketuban pecah dini
3. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengalaman tentang faktor-faktor penyebab terjadinya ketuban pecah dini serta sebagai penerapan ilmu yang telah didapatkan selama studi.



4. Bagi penelitian selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dikembangkan dan tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan dan dijadikan sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya khususnya yang berhubungan dengan ketuban pecah dini.

Faktor-faktor rendahnya cakupan kunjungan ibu hamil yang ke empat (K4)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
WHO memperkirakan bahwa sekitar 15% dari seluruh wanita yang hamil akan berkembang menjadi komplikasi yang berkaitan dengan kehamilannya serta dapat mengancam jiwaya. Dari 5.600.000 wanita hamil di Indonesia, sebagian besar akan mengalami suatu komplikasi atau masalah yang bisa menjadi fakta. Maka untuk bisa efektif dalam meningkatkan keselamatan ibu dan bayi baru lahir, asuhan antenatal harus lebih difokuskan pada intervensi yang telah terbukti bermanfaat menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir (Pusdiknakes-WHO-JHPIEGO, 2003).
Menurut data dari survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2004-2005, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup. Di Propinsi Lampung cenderung terjadi peningkatan AKI. Pada tahun 2003 AKI di Propinsi Lampung sebesar 53 per 100.000 kelahiran hidup dan meningkat menjadi 88 per 100.000 pada tahun 2004 dan 2005. AKI di Kota Metro tahun 2005 adalah 72 per 100.000 kelahiran hidup (DinKes Kota Metro, 2006).
Penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan, infeksi, toxemia gravidarum, partus macet (persalinan kasep), abortus dan ruptur uteri (Depkes RI, 1992). Gambaran tersebut menunjukkan bahwa penyebab-penyebab langsung kematian ibu sebagian besar dapat dideteksi dan dicegah pada masa kehamilan yaitu dengan pelaksanaan asuhan kebidanan atau biasa dikenal Ante Natal Care (ANC) (Depkes RI, 1993).
Hal ini menjadi tanggung jawab bersama serta memerlukan adanya upaya aktif dan pasif dalam meningkatkan cakupan kunjungan ibu hamil minimal 4 kali ke pelayanan kesehatan, terutama untuk ibu hamil yang sulit mengakses pelayanan kesehatan, sehingga secara dini dapat ditangani (DinKes Propinsi Lampung, 2005).
K4 adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang ke-empat (atau lebih) untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang ditetapkan, dengan syarat :
1. Minimal satu kali kontak pada triwulan I
2. Minimal satu kali kontak pada triwulan II
3. Minimal dua kali kontak pada triwulan III
(Depkes RI, 2004).
Pemeriksaan kehamilan pada trimester ketiga (>28 minggu) sangat penting. Karena pada trimester III dilakukan palpasi abdomen untuk mendeteksi adanya kehamilan ganda, kelainan letak, atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit (Pusdiknakes – WHO – JHPIEGO, 2003).
Data prasurvei yang didapat penulis di Dinas Kesehatan Kota Metro mengenai cakupan K4 tahun 2006 adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Data Cakupan K4 Kota Metro Tahun 2006

No Puskesmas Sasaran Realisasi %
1. Metro 502 481 95,8
2. Yosomulyo 587 581 99
3. Banjar Sari 500 445 89
4. Iringmulyo 694 618 89
5. Ganjar Agung 473 438 92,6
6. Sumber Sari Bantul 288 206 71,5
Jumlah 3044 2769 91
Sumber:Laporan Evaluasi Program Seksi Kesga Dinas Kesehatan Kota Metro 2007
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa cakupan K4 yang tertinggi dicapai oleh Puskesmas Metro yaitu sebanyak 481 orang dari 502 ibu hamil atau 95,8% dan cakupan K4 yang terendah ialah Puskesmas ............ yaitu sebanyak 206 orang dari 288 ibu hamil atau 71,5%. Sehingga terdapat kesenjangan 18,5 % dari target K4 90 % tahun 2006
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor-faktor rendahnya cakupan kunjungan ibu hamil yang ke-empat (K4) di Wilayah Kerja Puskesmas ............ tahun 2006”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka diperoleh rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu : “Apa yang menjadi faktor-faktor rendahnya cakupan kunjungan ibu hamil yang ke-empat (K4) di Wilayah Kerja Puskesmas ............?”

C. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Sifat Penelitian : Dekskriptif
2. Subjek Penelitian : Ibu hamil yang tidak melakukan kunjungan K4 di Wilayah Kerja Puskesmas ............
3. Obyek Penelitian : Faktor-faktor yang mempengaruhi ibu hamil tidak melakukan kunjungan K4
4. Lokasi Penelitian : Di Wilayah Kerja Puskesmas ............
5. Waktu Penelitian : Bulan Maret – Juli 2007
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor rendahnya cakupan kunjungan ibu hamil yang ke-empat (K4) di Wilayah Kerja Puskesmas .............

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Puskesmas ............
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dalam meningkatkan pelayanan dan pemanfaatan ANC.

2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai informasi, perbandingan, serta referensi bagi peneliti selanjutnya.

3. Bagi Institusi Politeknik Kesehatan ............
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk memperluas wawasan mahasiswa jurusan kebidanan.

Hubungan antara suami perokok dengan bayi berat lahir rendah (BBLR)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Gaya hidup atau life style ini menarik sebagai suatu masalah kesehatan, minimal dianggap sebagai faktor resiko dari berbagai macam Penyakit (Bustan, 2000). Dari sisi kesehatan, bahaya rokok sudah tak terbantahkan lagi. Bukan hanya menurut WHO, tetapi lebih dari 70 ribu artikel ilmiah membuktikan hal itu. Dalam kepulan asap rokok terkandung 4000 racun kimia berbahaya, dan 43 diantaranya bersifat karsinogenik (merangsang tumbuhnya kanker). Berbagai zat berbahaya itu adalah : tar, karbon monoksida (CO) dan nikotin. Mungkin Masyarakat sudah mengerti bahayanya, kerena dalam setiap bungkus rokok ada peringatan merokok dapat menyebapkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin (Abadi,T, 2005). Dari peringatan tersebut dapat diketahui dengan jelas bahwa rokok memiliki pengaruh buruk bagi kehamilan dan janin dalam kandungan.
Kebiasaan merokok para calon ibu ternyata membawa akibat buruk pada anak yang akan dilahirkanya. Terdapat bukti kuat bahwa ibu hamil yang merokok dapat langsung mempengaruhi dan merusak perkembangan janin dalam rahim, yang paling sering terjadi adalah berat lahir yang rendah (Arlene, 1996). Berat badan bayi ibu perokok pada umumnya kurang dan mudah menjadi sakit. Berat badan bayi tersebut lebih rendah 40-400 gram dibandingkan dengan bayi yang lahir dari Ibu bukan perokok. Sekitar 7% dari ibu-ibu hamil yang merokok satu bungkus sehari mungkin akan melahirkan anak yang beratnya kurang dari 2500 gram, dan persentase ini meningkat menjadi 12% pada ibu-ibu hamil yang menghabiskan dua bungkus rokok seharinya (Aditama., 1997).
Jumlah berat badan lahir rendah masih cukup tinggi. Berdasarkan hasil estimasi dan survei demografi dan kesehatan Indonesia, angka BBLR secara nasional pada periode tahun 2002-2003 mencapai 7,6 % (Profil Kesehatan Indonesia, 2005). Sedangkan Di Propinsi Lampung, angka BBLR pada tahun 2005 mencapai 2210 orang (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2005). Dan di Kota Metro angka kejadian BBLR pada tahun 2005 mencapai 68 orang (Profil Kesehatan Profinsi Lampung, 2005).
Berdasarkan penelitian, 1 dari 3 wanita yang merokok lebih dari 20 batang sehari melahirkan bayi dengan berat badan kurang (Syahbana,O., 2001)., namun hal tersebut tidak hanya terjadi pada ibu hamil yang merokok saja, ternyata ibu hamil yang tidak merokokpun bila sehari-hari selalu berada di tengah-tengah perokok dan selalu terpapar asap rokok (perokok pasif), bisa mengalami efek negatif yang hampir sama tingkatannya dengan perokok (Syahbana, 2001).
Sekarang ini makin banyak diketahui bahwa merokok tidak hanya berpengaruh terhadap orang yang menghisapnya, tetapi juga mempengaruhi semua orang yang berada di sekitarnya. Termasuk janin yang sedang berkembang dari ibu hamil yang kebetulan berada di dekatnya. Jadi, bila suami anda atau setiap orang yang tinggal di rumah anda atau bekerja di meja disamping anda merokok, tubuh bayi anda akan mendapat pengotoran oleh asap tembakau hampir sebanyak pengotoran yang ia dapat jika anda sendiri yang menghisapnya. Bahkan menurut Candra (2000), bahan kimia yang keluar dari asap bakaran ujung rokok kadarnya lebih tinggi dari pada yang dihisap perokoknya. Semakin dekat jarak perokok dengan perokok pasif, akan semakin besar bahayanya, karena itu penelitian banyak dilakukan pada istri si perokok. Belakangan ini para ahli juga menemukan hubungan antara penurunan berat bayi yang dilahirkan oleh isteri seorang perokok akibat gangguan perkembangan janin selama dalam kandungan (Aditama, 1997).
Berdasarkan data pra survei, di Wilayah Kerja Puskesmas ............ terdapat 9 bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram (data Puskesmas ............, 2006-2007). Setelah 5 orang suami yang memiliki bayi tersebut ditanyakan tentang kebiasaan merokok, 4 diantaranya menjawab ya dan menghabiskan lebih dari 10 batang rokok per hari dan 1 orang menjawab tidak.
Berdasarkan fenomena di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui tingkat hubungan suami perokok dengan bayi berat lahir rendah di Wilayah Kerja Puskesmas .............

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ”Apakah ada hubungan antara suami perokok dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di Wilayah Kerja Puskesmas ............?”.


C. Ruang Lingkup Penelitian
1. Jenis Penelitian : Analitik
2. Subyek Penelitian : Suami yang memiliki bayi usia 0-1 tahun di Wilayah Kerja Puskesmas ............
3. Objek Penelitian : Hubungan antara suami perokok dengan bayi berat lahir rendah (BBLR)
4. Lokasi Penelitian : Wilayah Kerja Puskesmas ............
5. Waktu Penelitian : Tanggal 28 Mei – 16 Juni 2007

D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat hubungan antara suami perokok dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) di Wilayah Kerja Puskesmas .............

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :
1. Puskesmas
Sebagai bahan masukan bagi pengelola program puskesmas dalam rangka meningkatkan kegiatan penyuluhan khususnya tentang hubungan suami perokok dengan bayi berat lahir rendah.
2. Peneliti
Dapat diketahui dengan jelas tingkat hubungan antara suami perokok dengan bayi berat lebih rendah.

3. Institusi Pendidikan
Sebagai sumber bacaan di perpustakaan institusi pendidikan
4. Peneliti Selanjutnya
Sebagai bahan referensi untuk peneliti selanjutnya.

Jumat, 03 Desember 2010

GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK TENTANG EFEK SAMPING DEPO MEDROXYPROGESTERONE ASETAT (DMPA)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebijakan Departemen Kesehatan dalam upaya mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategis “Empat Pilar Safe Motherhood”. Dewasa ini, Program Keluarga Berencana (KB) sebagai pilar pertama, telah dianggap berhasil (Saifudin, 2002). Program Keluarga Berencana (KB) adalah bagian yang terpadu (Integral) dalam program Pembangunan Nasional yang bertujuan untuk turut serta menciptakan kesejahteraan ekonomi, sprititual dan sosial budaya penduduk Indonesia (Dep. Kes RI, 1994).
Keluarga Berencana adalah salah satu usaha untuk mencapai kesejahteraan dengan jalan memberikan nasehat perkawinan, pengobatan kemandulan dan penjarangan kelahiran (Dep. Kes RI, 1994). Metode KB yang dapat digunakan terdiri dari 2 macam yaitu metode sederhana (kondom, spermiside, koitus interuptus, pantang berkala) dan metode efektif (hormonal, mekanis dan metode KB darurat) (Manuaba, 1998).
Salah satu jenis kontrasepsi efektif yang menjadi pilihan kaum ibu adalah KB suntik, ini disebabkan karena aman, efektif, sederhana dan murah. Cara ini mulai disukai masyarakat kita dan diperkirakan setengah juta pasangan memakai kontrasepsi suntikan untuk mencegah kehamilan (1983) (Muchtar. R, 2002). Namun demikian KB suntik juga mempunyai banyak efek samping, seperti amenorea (30%), spoting (bercak darah) dan menoragia, seperti halnya dengan kontrasepsi hormonal lainnya dan dijumpai pula keluhan mual, sakit kepala (<1-17%) (pusing), galaktorea (90%), perubahan berat badan (7-9%) (Hartanto, jones, 2005 ).
Berdasarkan data yang di peroleh dari BPS Statistik Kesejahteraan Rakyat di Indonesia pada tahun 2003, jumlah akseptor KB suntik menduduki tingkat pertama (51,08%), dan untuk tingkat Propinsi berjumlah 337.257 peserta, sedangkan hasil survey BKKBN Kabupaten ............ (Desember 2006) jumlah PUS 184.379, akseptor KB suntik 41.538 dan untuk Kecamatan Sekampung jumlah PUS nya 11783 akseptor KB suntik 1890 dari survei akseptor KB suntik berjumlah 425 selama tiga bulan terakhir (Desember – Februari 2007) dan mempunyai keluhan yang dominan yaitu berupa gangguan haid 106 orang, perubahan BB 127 orang, sakit kepala 43 orang dan lain-lain 43 orang tidak ada keluhan 106 orang dan jumlah peserta KB aktif pada RB ............ ............ (Desember – Februari 2007) adalah berjumlah 510 dengan pemakaian suntik KB Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) berjumlah 371 akseptor.

Tabel 1. Akseptor KB yang Datang ke RB ............ Periode Desember – Februari 2007

Bulan Alat Kontra Sepsi
Depo Cyclo Pil Implan IUD
Desember 110 orang 16 orang 25 orang 3 orang 1 orang
Januari 118 orang 17 orang 13 orang 6 orang 4 orang
Februari 143 orang 21 orang 23 orang 3 orang 7 orang
Jumlah 371 orang 54 orang 61 orang 12 orang 12 orang
Sumber : Buku Bantu KB ............ Desember-Februari, 2007

Berdasarkan hasil prasurvei di RB ............ ............ 2007 yang di laksanakan pada bulan Maret 2007 dengan melakukan uji kuesioner mengenai pengetahuan akseptor tentang efek samping Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) pada 10 orang responden KB suntik Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) di dapatkan akseptor yang berkategori kurang mencapai 50%. Jumlah akseptor KB aktipnya berjumlah 425 orang (Desember-Februari 2007), dari keseluruhan data tersebut jumlah akseptor KB suntik Depo lebih banyak dari pada akseptor KB suntik Cyclo. Hal ini melatar belakangi penulis untuk melakukan penelitian dengan judul “Gambaran Pengetahuan Akseptor KB Suntik Tentang Efek Samping Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) di RB ............ Kabupaten ............ 2007”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas dapat di rumuskan sebagai berikut : “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Akseptor KB Suntik Tentang Efek Samping Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) di RB ............ ............ 2007” ?

C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini, ruang lingkup penelitian adalah sebagai berikut :
1. Sifat penelitian : Deskriptif
2. Subjek penelitian : Akseptor KB suntik Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA).
3. Objek penelitian : Pengetahuan akseptor KB suntik tentang efek samping Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA)
4. Lokasi penelitian : Dilaksanakan di RB ............ ............
5. Waktu penelitian : 5 Mei – 7 Juni 2007

D. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan akseptor KB suntik tentang efek samping Depo Medroxyprogesterone Asetat (DMPA) di RB ............ ............ tahun 2007.

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :
1. Bidan RB ............
Menjadi bahan masukan bagi program kerja bidan untuk meningkatkan konseling yang berkaitan dengan efek samping pada kontrasepsi khususnya kontrasepsi suntik.

2. Instansi Pendidikan Prodi Kebidanan ............
Sebagai bahan bacaan dan menjadi sumber Pustaka untuk penelitian selanjutnya.

3. Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan, khususnya dalam bidang penelitian terhadap “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Efeksamping KB Suntik di RB ............”.

Kamis, 02 Desember 2010

Karakteristik ibu dengan perdarahan post partum di ruang kebidanan .... tahun .....

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Mortalitas dan Morbiditas pada wanita hamil dan bersalin masih menjadi masalah besar dinegara berkembang (Saifuddin, 2002). Oleh sebab itu, maka pemerintah mencanangkan gerakan Nasional Kehamilan Yang Aman (Making Pregnancy Safer) sebagai strategi pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat tahun 2010 sebagai bagian dari program Safe Motherhood (DepKes RI dan WHO, 2001). Visi Making Pregnancy Safer (MPS) yaitu kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat, sedangkan visi MPS adalah menurunkan kesakitan dan kematian maternal melalui pemantapan sistem kesehatan berdasarkan bukti ilmiah yang berkualitas, memberdayakan wanita keluarga dan mayarakat melalui kegiatan yang mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir serta menjamin agar kesehatan maternal dipromosikan dan di lestarikan sebagai prioritas program pembangunan nasional. Salah satu sasaran program MPS yaitu menurunkan angka kematian maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup (Saifuddin, 2002).
Sehubungan dengan pelaksanaan strategi penurunan angka kematian ibu, maka diperlukan identifikasi faktor resiko yang dapat menempatkan maternal pada resiko tinggi post partum hemorogi (PPH) yang salah satunya adalah melalui riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik yang seksama. Faktor tersebut penting karena dapat menunjukkan maternal mana yang beresiko tinggi mengalami PPH sehingga tindakan dapat diambil untuk memastikan bahwa maternal tersebut melahirkan di fasilitas yang mampu menangani hemorogi, jika dan saat perdarahan terjadi (WHO, 2001).
Perdarahan post partum akan menyebabkan tubuh kehilangan darah lebih dari 500 cc, akibatnya akan terjadi syock karena perdarahan yang terus menerus. Akibat yang lebih serius yaitu kematian ibu. Selain itu, perdarahan post partum juga memperbesar kemungkinan infeksi puerperal karena daya tahan penderita berkurang, perdarahan yang banyak juga dapat mengakibatkan sindroma sheehan (Winkjosastro, 2002).
Berdasarkan Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003 AKI di Indonesia sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Provinsi Lampung, 2005). Sedangkan jumlah kematian ibu di provinsi Lampung pada tahun 2003 yaitu 98 per 186.248 kelahiran hidup (53 per 100.000 kelahiran hidup) dan meningkat pada tahun 2005 menjadi 145 per 165.347 kelahiran hidup (88 per 100.000 kelahiran hidup). Berdasarkan Laporan Evaluasi Program Seksi Kesga DinKes ............ jumlah angka kematian ibu tahun 2005 adalah 2 per 2.762 kelahiran hidup (72 per 100.000 kelahiran hidup) dan pada tahun 2007 angka kematian ibu mengalami peningkatan yang cukup tinggi yaitu 8 per 2.662 kelahiran hidup (300 per 100.000 kelahiran hidup).
Penyebab kematian ibu adalah perdarahan, infeksi, gestosis dan aborsi (Winkjosastro, 2002). Penyebab kematian terbesar ibu di Indonesia yaitu perdarahan (45.2 %), pre eklampsia dan eklampsia (12,9 %), anemia (1,6 %) dan penyebab tidak langsung 14,1% (Suara Pembaharuan online, 2007). Di provinsi Lampung yang menjadi penyebab terbesar kematian ibu yaitu perdarahan sebesar 50,69 % dan biasanya terjadi pada ibu hamil dengan resiko tinggi dan ibu bersalin yang tidak ditolong oleh tenaga kesehatan (Profil DinKes Propinsi Lampung, 2005). Sedangkan di ............ penyebab kematian ibu pada tahun 2006 yaitu perdarahan (37,5 %), infeksi, anafilaktik syok, histerektomi, KET dan pre eklampsi berat masing-masing sebanyak 12,5 % (Laporan Evaluasi Program Seksi Kesga Dinkes ............).
Perdarahan pada ibu hamil dan bersalin dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu perdarahan sebelum usia kehamilan 28 minggu, perdarahan sesudah usia kehamilan 28 minggu (Perdarahan antepartum), dan perdarahan setelah fetus lahir (perdarahan yang terjadi dalam waktu 24 jam setelah persalinan berlangsung) yaitu perdarahan post partum. (sinarharapan online, 2007). Perdarahan post partum biasanya disebabkan oleh atonia uteri, robekan jalan lahir, retensio plasenta dan sisa plasenta dan kelainan darah (Mochtar,1998). Adapun faktor predisposisi perdarahan post partum secara umum yaitu keadaan umum pasien yang mempunyai gizi rendah, kelemahan dan kelelahan otot rahim, pertolongan persalinan dengan tindakan yang disertai narkose, dan overdistensi pada kehamilan (Manuaba.1999).
Sebagai rumah sakit rujukan pemerintah di ............, RSUD ............ merupakan rumah sakit yang difasilitasi untuk menangani kasus-kasus yang terjadi di masyarakat, termasuk PPH di wilayah ............ dan daerah-daerah perbatasan di sekitarnya.
Berdasarkan hasil prasurvei yang dilakukan pada bulan maret 2007 di RSU ............ terdapat 51 ibu yang mengalami perdarahan post partum selama tahun 2006 dan belum teridentifikasi presentase faktor-faktor predispodisi maternal yang dapat meningkatkan resiko terjadi PPH.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “ Karakteristik Ibu Dengan Perdarahan Post Partum di Ruang Kebidanan RSU ............”
B. Rumusan Masalah
Dari uraian yang terdapat pada latar belakang masalah yang ada, maka diperoleh rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu : “Bagaimana karakteristik ibu dengan perdarahan post partum di ruang kebidanan RSU ............ ?”
C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis akan membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Sifat Penelitian : Deskriptif
2. Subyek Penelitian : Ibu yang mengalami perdarahan post partum di ruang kebidanan RSU ............ selama tahun 2006
3. Obyek penelitian : Karakteristik ibu dengan perdarahan post partum di ruang kebidanan RSU. ............
4. Tempat Penelitian : Ruang Kebidanan RSU ............
5. Waktu Penelitian : 5 Mei 2007 s/d 7 Juni 2007
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahuinya karakteristik ibu yang mengalami perdarahan post partum di ruang kebidanan RSUD .............
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya karakteristik usia ibu dengan perdarahan post partum di ruang kebidanan RSUD .............
b. Diketahuinya karakteristik paritas ibu dengan perdarahan post partum di ruang kebidanan RSUD .............
c. Diketahuinya karakteristik riwayat kehamilan ibu dengan perdarahan post partum di ruang kebidanan RSUD .............
d. Diketahuinya karakteristik riwayat persalinan ibu dengan perdarahan post partum di ruang kebidanan RSUD .............
e. Diketahuinya karakteristik riwayat penyakit ibu dengan perdarahan post partum di ruang kebidanan RSUD .............
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
1. Peneliti
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan peneliti, khususnya tentang perdarahan post partum.



2. Ruang kebidanan RSUD ............
Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan sehingga dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk peningkatan pelayanan di rumah sakit khususnya di ruang kebidanan.
3. Pengembangan Program Dinas Kesehatan ............
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi data yang bermanfaat bagi Dinas Kesehatan .............

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pre menstrual syndrom (PMS) pada wanita usia 25-35 tahun di kampung ..... tahun ....

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pre Menstrual Syndrom (PMS) adalah sekumpulan gejala berupa gangguan fisik dan mental, dialami 7 – 10 hari menjelang menstruasi dan menghilang beberapa hari setelah menstruasi. (Agustin,2004). Penderita Pre Menstrual Syndrom kadang merasa pusing kepala yang terkadang sampai pingsan. (Karyadi,1999).
Pre Menstrual Syndrom merupakan suatu gejala yang sering dialami oleh wanita menjelang menstruasi dangan dampak yang dialami bisa menjadi lebih ringan seperti bingung, pelupa, timbul jerawat ataupun lebih berat seperti diare, konstipasi, insomnia, depresi, bahkan kadang muncul rasa ingin bunuh diri. Sedangkan gangguan mental dapat berupa mudah tersinggung dan sensitif,sedangkan gangguan fisik berupa acne, nyeri perut, pusing, sakit punggung, nyeri payudara. Pre menstrual syndrom bisa membuat penderitanya merasa sangat sengsara.(Agustini,2004)
Survei di Amerika Serikat tahun 1982 menunjukkan bahwa 50% wanita mengalami Pre Menstrual Syndrom (Karyadi, 2007), sedangkan di Indonesia kurang lebih 85% gejala Pre Menstrual Syndrom dialami oleh wanita usia produktif antara usia 25-35 tahun. (Agustini,2007).
Di Kabupaten Lampung Tengah,tepatnya kampung ............ diperoleh data jumlah penduduk wanita usia 25 – 35 tahun ada 178 orang. Berdasarkan hasil pra survei yang dilakukan oleh peneliti terhadap 27 orang wanita usia 25-35 tahun, ditemukan 24 orang yang mengalami gejala Pre Menstrual Syndrom dan 3 orang yang tidak mengalami keluhan apapun saat menjelang menstruasi. Menghadapi gejala tersebut mereka merasa resah, cemas, was-was,dan terganggu,mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Pre Menstrual Syndrom belum jelas penyebabnya. Beberapa teori menyebutkan karena faktor hormonal yaitu ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron, stres dan kekurangan gizi serta jumlah kegiatan fisik yang tidak memadai. (Tan, 1996). Faktor-faktor yang turut memperberat Pre Menstrual Syndrom menurut Agustini,(2004) ialah faktor paritas, dan faktor usia. Sedangkan menurut Karyadi (1999) faktor-faktor yang turut memperberat Pre Menstrual Syndrom ialah faktor paritas, usia, diet, kekurangan zat gizi, dan kegiatan fisik.
Uraian di atas melatar belakangi penulis untuk meneliti lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Pre Menstrual Syndrom pada wanita usia 25-35 tahun di Kampung ............ wilayah Puskesmas ............ tahun 2007.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka diperoleh rumusan masalah dalam penelitian yaitu “Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi terjadinya Pre Menstrual Syndrom pada wanita usia 25-35 tahun di Kampung ............ wilayah Puskesmas ............?”

C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menetapkan ruang lingkup penelitian sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Subjek Penelitian : Wanita usia 25-35 tahun
3. Objek Penelitian : Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Pre Menstrual Syndrom
4. Lokasi Penelitian : Kampung ............ wilayah Puskesmas ............
5. Waktu Penelitian : 4 Juni – 16 Juni 2007

D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Tujuan Umum
Diperolehnya gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Pre Menstrual Syndrom pada wanita usia 25-35 tahun di Kampung ............ wilayah Puskesmas .............
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus pada penelitian ini adalah :
a. Diketahuinya faktor paritas yang mempengaruhi terjadinya Pre Menstual Syndrom
b. Diketahuinya faktor usia yang mempengaruhi terjadinya Pre Menstrual Syndrom
c. Diketahuinya faktor diet yang mempengaruhi terjadinya Pre Menstrual Syndrom


E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Responden
Dapat menambah pengetahuan tentang Pre Menstrual Syndrom sehingga dapat menjalankan aktifitas dengan tenang saat gejala datang
2. Bagi Puskesmas ............
Dapat menjadi program penyuluhan kesehatan sehingga dapat memberikan arahan pada para wanita usia 25-35 tahun di wilayah Puskesmas .............
3. Bagi Institusi Program Studi Kebidanan ............
Dapat dijadikan bahan bacaan bagi mahasiswa di perpustakaan dan dapat menjadi bahan masukan bagi peneliti yang akan datang,yang berhubungan dengan Pre Menstrual Syndrom
4. Bagi Peneliti
Dapat menerapkan teori yang didapat dari bangku kuliah dan menambah wawasan serta pengetahuan khususnya tentang Pre Menstrual Syndrom

Delete this element to display blogger navbar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls