Kamis, 16 Desember 2010

Pengetahuan dan sikap bidan dalam penatalaksanaan manajemen rujukan pada ibu bersalin dengan kelainan obstetri

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil, bersalin dan nifas adalah masalah besar di negara berkembang. Di negara miskin, sekitar 25-50 % kematian wanita subur disebabkan hal berkaitan dengan kehamilan. Kehamilan saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktifitasnya. Tahun 1996, WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin. Di Asia selatan, wanita berkemungkinan 1:18 meninggal akibat kehamilan, persalinan selama kehidupannya, di banyak negara Afrika 1:14, sedangkan di Amerika utara hanya 1:6.336. Lebih dari 50% kematian di negara berkembang sebenarnya dapat dicegah dengan teknologi yang ada serta biaya relatif rendah (Saifuddin, 2002).
Saat ini angka kematian ibu di seluruh dunia masih cukup tinggi. Estimasi WHO tahun 2000 tentang AKI (Maternal Mortality Ratio/MMR per 100.000 kelahiran hidup) adalah sebagai berikut, di seluruh dunia sebesar 400, di negara industri AKI cukup rendah yaitu sebesar 20, di Eropa sebesar 24. Untuk negara berkembang angka kematian ibu masih cukup tinggi yaitu sebesar 440 per 100.000, di Afrika sebesar 830 per 100.000, di Asia sebesar 330 per 100.000 dan Asia Tenggara sebesar 210 per 100.000 (WHO, 2004).

Sementara itu diantara Negara-Negara ASEAN angka kematian ibu maternal yang tertinggi adalah di Laos (650 per 100.000), menyusul Kamboja (450 per 100.000), dan kemudian Myanmar (360 per 100.000) sedangkan yang terendah di Singapura (30 per 100.000), Brunai Darussalam (37 per 100.000) dan Malaysia (41 per 100.000) (Departemen Kesehatan Indonesia, 2003).
Di Indonesia angka kematian ibu masih cukup tinggi walaupun terjadi penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Menurut SKRT, AKI menurun dari 450 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1992, kemudian menurun lagi menjadi 379 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1995. Pada SKRT 2001 tidak dilakukan survey mengenai AKI. Menurut SDKI pada tahun 2002-2003 AKI sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup (Departemen Kesehatan Indonesia, 2003).
Menurut Women Of our World 2005 yang diterbitkan oleh Population Reference Bureau (2005), AKI di Indonesia mencapai 230 per 100.000 kelahiran hidup, hampir dua kali lipat lebih tinggi dari AKI di Vietnam (130), lima kali lipat lebih tinggi dari AKI di Malaysia (41) dan Thailand (44) bahkan tujuh kali lipat lebih tinggi dari AKI di Singapura (30) (www.bappenas. go.id, 2007). Walaupun AKI di Indonesia mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya, tapi masih jauh dari angka kematian ibu yang diharapkan pada tahun 2010 yaitu sebesar 125 per 100.000 kelahiran hidup (www.tempo.com, 2007).
Di provinsi Lampung, cenderung terjadi peningkatan AKI sebesar 143 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 153 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2002 (Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, 2003). Dan pada tahun 2003 angka kematian ibu sebesar 98 orang dari 186.248 (Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, 2004). Sementara itu kematian ibu di Kabupaten Lampung Tengah selama periode waktu 2001-2003, cenderung mengalami penurunan, yaitu mulai dari 32 kasus (156 per 100.000 kelahiran hidup) pada tahun 2001, 28 kasus (128 per 100.000 kelahiran hidup) tahun 2002, pada tahun 2003 dan 2004 sebesar 12 kasus (63,6 per 100.000 kelahiran hidup), tahun 2005 menjadi 16 kasus (62,1 per 100.000 kelahiran hidup) (Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Tengah, 2005).
Menurut data SKRT tahun 2001, 90% penyebab kematian ibu tersebut karena adanya komplikasi dan 28% diantaranya terjadi perdarahan di masa kehamilan dan persalinan. Ada beberapa sebab tidak langsung tentang masalah kesehatan ibu, yaitu pendidikan ibu-ibu terutama yang ada di pedesaan masih rendah, sosial ekonomi dan sosial budaya indonesia yang mengutamakan bapak daripada ibu, 4 terlalu dalam melahirkan yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering dan terlalu banyak dan tiga terlambat yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat untuk dikirim ke tempat pelayanan kesehatan dan terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan (www. promosi kesehatan.com, 2007).
Mengingat kira-kira 90% kematian itu terjadi disaat sekitar persalinan dan kira-kira 95% penyebab kematian ibu adalah komplikasi obstetrik yang sering tidak dapat diperkirakan sebelumnya,maka kebijaksanaan Departemen Kesehatan untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu adalah mengupayakan agar setiap persalinan ditolong atau minimal didampingi oleh bidan dan pelayanan obstetrik sedekat mungkin kepada semua ibu hamil (Saifuddin, 2002).
Perubahan Paradigma menunggu terjadinya dan menangani komplikasi menjadi pencegahan terjadinya komplikasi dan dapat membawa perbaikan kesehatan bagi kaum ibu di Indonesia. Penyesuaian ini sangat penting dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir karena sebagian besar persalinan di Indonesia masih terjadi di tingkat pelayanan kesehatan primer dimana tingkat keterampilan dan pengetahuan petugas kesehatan difasilitas pelayanan tersebut masih belum memadai. Deteksi dini dan pencegahan komplikasi dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu serta bayi baru lahir, jika semua tenaga penolong persalinan dilatih agar mampu untuk mencegah atau deteksi dini komplikasi yang mungkin terjadi, merupakan asuhan persalinan secara tepat guna dan waktu, baik sebelum atau saat masalah terjadi dan segera melakukan rujukan saat kondisi masih optimal, maka para ibu akan terhindar dari ancaman kesakitan dan kematian (Depkes RI, 2004).
Telaah UNICEF tentang keselamatan ibu (1991) menemukan bahwa upaya kesehatan dasar hanya mampu menurunkan angka kematian sebesar 20%. Sebaliknya, pelayanan rujukan yang efektif mampu menurunkannya sampai sekitar 80%. Juga diketahui bahwa akibat berbagai keterlambatan 80% kematian ibu justru terjadi di RS rujukan. Menurut Rodes S. Cuban (1980), peluang untuk menyelamatkan pasien tergantung pada kemampuan penegakan diagnosis, persiapan rujukan, kedinian waktu rujukan dan penatalaksanaan kasus ditingkat penerima rujukan. Dengan demikian, kinerja jaringan rujukan akan sangat ditentukan oleh penatalaksanaan setiap kasus pada setiap unit pelayanan secara menyeluruh (www. tempo. co. id, 2007).
Jaringan rujukan pada dasarnya adalah suatu kesatuan pelayanan kesehatan di wilayah tertentu yang mendistribusikan kewenangan dan tanggung jawab pelayanan secara berjenjang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat. Dalam upaya pembentukan dan pembinaan jaringan rujukan, perlu diperhatikan beberapa hal mendasar yaitu daerah, cakupan jaringan, pelayanan standar dan tanggung jawab setiap jenjang tempat pelayanan (www.tempo.co.id, 2007).
Mengingat bahwa penyebab kematian ibu berupa komplikasi obstetri yang dapat muncul tak terduga di setiap tempat, pada setiap saat dan dalam segala situasi. Sementara, dalam keadaan yang serba terbatas, maka diperlukan suatu sistem rujukan yang efektif dari tingkat pe!ayanan primer, ke tingkat pelayanan kesehatan yang lebih memadai. Sehingga diharapkan ibu bersalin dengan komplikasi obstetrik dapat segera ditangani di tingkat pe!ayanan kesehatan yang lebih memadai dan fasilitas lebih lengkap.
Studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan maret 2007 di Puskesmas ................, didapatkan hasil bahwa AKI di Kecamatan ................ selama tahun 2006 sebanyak 5 orang, AKB sebanyak 7 orang dan masing-masing 3 orang diantaranya meninggal di tempat rujukan. Kemudian didapatkan data mengenai pendidikan bidan di Puskesmas ................ yaitu terdapat 12 bidan dengan basis pendidikan bidan Diploma I sebanyak 9 orang dan pendidikan bidan Diploma III sebanyak 3 orang.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk meneliti tentang “Pengetahuan dan sikap bidan dalam penatalaksanaan manajemen rujukan pada ibu bersalin dengan kelainan obstetri di Wilayah Puskesmas ................”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut: “Bagaimana pengetahuan dan sikap bidan dalam penatalaksanaan manajemen rujukan pada ibu bersalin dengan kelainan obstetri di Wilayah Puskesmas ................ Tahun 2007?”

C. Ruang lingkup penelitian
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup yang diteliti sebagai berikut:
1. Sifat penelitian : Studi deskriptif
2. Subjek penelitian : Semua bidan di Wilayah Puskesmas ................
3. Objek penelitian : Pengetahuan dan sikap bidan dalam penatalaksanaan manajemen rujukan pada ibu bersalin
4. Lokasi Penelitian : Wilayah Puskesmas ................
5. Waktu Penelitian : 4 Juni 2007 sampai dengan 10 Juni 2007






D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap bidan dalam penatalaksanaan manajemen rujukan pada ibu bersalin di Wilayah Puskesmas ................ Tahun 2007.

2. Tujuan khusus
Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian mi adalah:
a. Untuk memperoleh gambaran pengetahuan bidan dalam penatalaksanaan manajement rujukan pada ibu bersalin dengan kelainan obstetri.
b. Untuk mengetahui gambaran sikap bidan dalam penatalaksanaan manajement rujukan pada ibu bersalin dengan kelainan obstetri

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Bidan
Penelitian ini diharapkan sebagai sumbangan pemikiran dan sebagai bahan evaluasi dalam Penatalaksanaan rujukan pada ibu bersalin yang efektif agar mendapat pelayanan kegawatdaruratan obstetri di tempat rujukan yang lebih memadai dalam upaya keselamatan ibu dan bayi.
2. Bagi Puskesmas ................
Sebagai bahan masukan bagi Puskesmas ................ sehingga dapat meningkatkan pengetahuan bidan dalam penatalaksanaan rujukan pada ibu bersalin.


3. Bagi Prodi Kebidanan ………
Sebagai dokumen dan bahan tambahan sumber bacaan bagi Mahasiswi Prodi Kebidanan ……...

4. Bagi Peneliti
Sebagai penerapan dan perkuliahan yang telah didapat di Prodi Kebidanan ……. serta untuk mendapat informasi yang jelas mengenai pengetahuan dan sikap bidan dalam penatalaksanaan manajemen rujukan pada ibu bersalin, sehingga dapat memberikan informasi untuk penelitian lebih lanjut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya konsumsi tablet Fe pada ibu hamil

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Defisiensi zat besi merupakan penyebab anemia gizi yang paling lazim. Anemia defisiensi besi pada wanita hamil merupakan problem kesehatan yang dialami oleh wanita di seluruh dunia terutama di negara berkembang. Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa prevalensi ibu hamil yang mengalami defisiensi besi sekitar 35-75% (Riswan M., 2003). Anemia defisiensi besi dapat dicegah dengan pemberian suplemen tambah darah mengandung 200 mg sulfas Ferosus (setara dengan 60 mg besi) dan 0,25 mg asam folat (tablet Fe) apabila kadar Hb meningkat 0,1 gr/dl sehari, dimulai dari hari keempat selama bulan pertama, pengobatan diartikan berhasil atau mendapat respon positif dari pengobatan (E.M.DeMaeyer, 1995).
Cakupan pemberian tablet Fe1 (Pertama kali ibu mendapatkan tablet Fe sebanyak 30 tablet) di Indonesia sebesar 69,14%. Propinsi dengan cakupan Fe1 tertinggi adalah di Propinsi Kalimantan Selatan (101,99%) dan yang terendah di Propinsi Jambi (21,31%). Cakupan pemberian tablet Fe3 (Pemberian tablet Fe berikutnya sebanyak 90 tablet) di Indonesia sebesar 59,62%. Propinsi dengan cakupan Fe3 tertinggi adalah Propinsi Kalimantan Selatan (88,10%) dan yang terendah adalah Propinsi Lampung (19,23%) (Dep.Kes.RI, 2003).
Berdasarkan data tahun 2005 dari Dinas Kesehatan Propinsi Lampung pemberian tablet Fe pada ibu hamil yang dianjurkan minimal 90 butir selama kehamilan dan pemberian ini biasanya diberikan secara bertahap serta paling baik diberikan pada trimester tiga. Di Propinsi Lampung prosentase ibu hamil yang minum tablet Fe sesuai anjuran ternyata relatif kecil yaitu 18,8% (Dinas Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
Di Kota Metro cakupan kualitas sering mengalami penurunan. Cakupan tablet Fe untuk ibu hamil di Kota Metro dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 1
Cakupan tablet Fe untuk ibu hamil di kota metro tahun 2006

Puskesmas Sasaran Fe1 Fe3
Cakupan % Cakupan %
Yasomulyo 587 598 100,3% 585 99,65%
Metro 502 514 102,3% 481 91,81%
Iringmulyo 694 633 91,21% 569 81,98%
Banjar sari 500 484 86,8% 447 89,4%
Sumber sari bantul 288 235 81,59% 213 79,95%
G. agung 473 426 90,06% 302 63,84%
Jumlah 3044 2881 94,64% 2597 85,31%
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Metro, 2006
Tabel diatas menjelaskan bahwa cakupan Fe1 tertinggi di Puskesmas Metro (102,3%) dan cakupan Fe3 tertinggi di Puskesmas Iringmulyo (99,65%) sedangkan cakupan Fe1 terendah di Puskesmas Sumber Sari Bantul (81,59%) dan cakupan Fe3 terendah di Puskesmas .................. (63,84%). Prosentase tertinggi punurunan cakupan Fe1 ke cakupan Fe3 di Puskesmas .................. (26,22%).
Tablet Fe sangat dibutuhkan pada saat hamil karena ibu hamil sangat memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Di Kota Metro khususnya Puskesmas .................. cakupan tablet Fe masih terbilang rendah.
Rendahnya konsumsi tablet Fe pada ibu hamil disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : 1) Efek dari pemakaian tablet Fe. Berdasarkan hasil penelitian faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di Propinsi Lampung pada Tahun 2004 didapatkan bahwa penyebab tertinggi ibu tidak mengkonsumsi tablet Fe dikarenakan efek dari pamakaian tablet Fe dapat mengakibatkan mual dan muntah sebesar 26,15% dari 2203 responden (Islamiyati, 2005), 2) Kurangnya pengetahuan ibu tentang tablet Fe. Berdasarkan hasil penelitian pengetahuan ibu terhadap tablet Fe pada Tahun 2004 di Wilayah Kerja Puskesmas Kampung Sawah Bandar Lampung didapatkan hasil hanya 55% dari 20 respnden yang cukup mengetahui tentang tablet Fe (Fitri, 2004). Pengetahuan ibu yang kurang terhadap tablet Fe dapat mempengaruhi ibu untuk mengkonsumsi tablet Fe, 3) Kepatuhan ibu dalam mengkonsumsi tablet Fe. Kepatuhan terhadap pemakaian tablet Fe dapat dipengaruhi oleh efek dari pemakaian tablet Fe yang berupa gangguan perut dan ternyata rata-rata hanya 15 tablet yang dipakai oleh wanita hamil (Saifuddin, 2002). Sebab utama kegagalan pengobatan dengan tablet Fe adalah ketidaktaatan penderita mengkonsumsi tablet Fe (E.M.DeMaeyer,1995).
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya konsumsi tablet Fe pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas .................. tahun 2007.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah ”faktor-faktor apakah yang mempengaruhi rendahnya konsumsi tablet Fe pada ibu hamil?”




C. Ruang Lingkup Penelitian
1. Jenis penelitian : Deskriptif
2. Objek penelitian : Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya konsumsi tablet Fe
3. Subjek penelitian : Ibu Hamil trimester dua dan trimester tiga
4. Tempat penelitian : Wilayah Kerja Puskesmas ..................
5. Waktu penelitian : Dari Tanggal 5 Sampai 9 Juni 2007

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya konsumsi tablet Fe pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas .................. Kecamatan .................. Tahun 2007.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi rendahnya konsumsi tablet Fe pada ibu hamil ditinjau dari efek samping.
b. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi rendahnya konsumsi tablet Fe pada ibu hamil ditinjau dari pengetahuan.
c. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi rendahnya konsumsi tablet Fe pada ibu hamil ditinjau dari kepatuhan.

E. Manfaat Panelitian
Dengan diperolehnya data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya konsumsi tablet Fe pada ibu hamil maka diharapkan :


1. Bagi Petugas Kesehatan Puskesmas ..................
Diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan untuk lebih serius mensosialisasikan tentang pentingnya mengkonsumsi tablet Fe selama masa kehamilan.
2. Bagi Prodi Kebidanan .........
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk memperluas wawasan mahasiswi jurusan kebidanan, khususnya Politeknik Kesehatan Tanjung Karang Program Studi Kebidanan.............tentang ”faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya konsumsi tablet Fe pada ibu hamil”.
3. Bagi Peneliti lain
Diharapkan dapat menjadi masukan untuk penelitian berikutnya terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya konsumsi tablet Fe
4. Bagi Peneliti
Sebagai penerapan mata kuliah metodelogi penelitian serta menambah pangalaman dan wawasan dalam penelitian.

Tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan KIA oleh bidan

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Program menjaga mutu adalah suatu proses yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, objektif dan terpadu dalam menetapkan masalah dan penyebab masalah mutu pelayanan kesehatan berdasarkan standar yang telah ditetapkan, menetapkan dan melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, serta menilai hasil yang dicapai guna menyusun saran tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan kesehatan (Syaifuddin, 2002).
Banyak hal yang perlu diperhatikan untuk dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Salah satu diantaranya yang dipandang mempunyai peranan yang cukup penting ialah menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Adapun yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat (Syaifuddin, 2002).
Syarat pelayanan kesehatan yang baik setidak-tidaknya dapat dibedakan atas 13 macam, yakni tersedia (availabel), menyeluruh (comprehensive), terpadu (integrated), berkesinambungan (continue), adil dan merata (equity), mandiri (sustainable), wajar (aapropriate), dapat diterima (acceptable), dapat dipahami (accessible), dapat dijangkau (affordable), efektif (effective), efisien (efficient), serta bermutu (quality) (Syaifuddin, 2002).
Ketiga belas syarat pelayanan kesehatan ini sama pentingnya. Namun pada akhir ini, dengan makin majunya ilmu dan teknologi kedokteran disatu pihak serta makin baiknya tingkat pendidikan serta keadaan sosial ekonomi penduduk dipihak lain, tampak syarat mutu makin bertambah penting. Mudah dipahami karena apabila pelayanan kesehatan yang bermutu dapat diselenggarakan, bukan saja akan dapat menghindari terjadinya pelbagai efek samping (side effect) karena penggunaan pelbagai kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran, tetapi sekaligus juga akan dapat memenuhi kebutuhan dan tuntutan kesehatan masyarakat (heallth needs and demands) yang semakin meningkat (Syaifuddin, 2002).
Untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh (comprehensive heallth care services) kepada seluruh masyarakat di wilayah kerjanya, Puskesmas menjalankan beberapa usaha pokok (gasic health care services) yang meliputi beberapa program, salah satunya yaitu Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) (Muninjaya, 1999).
Peningkatan kualitas Kesehatan Ibu dan Anak sangat berkaitan dengan pelayanan kebidanan. Pada pertemuan pengelola Safe Motherhood dari negara-negara di wilayah SEARO / Asia Tenggara pada tahun 1995, disepakati bahwa kualitas pelayanan kebidanan yang diberikan kepada setiap ibu yang memerlukannya perlu diupayakan agar memenuhi standar tertentu agar aman dan efektif. Sebagai tindak lanjutnya, WHO SEARO mengembangkan standar pelayanan kebidanan (DepKes RI, 2002).
Suatu standar akan efektif bila dapat diobservasi dan diukur, relistik, mudah dilakukan dan dibutuhkan. Standar penting untuk pelaksanaan, pemeliharaan dan penilaian kualitas pelayanan. Hal ini menunjukkan bahwa standar pelayanan perlu dimiliki oleh setiap pelaksana pelayanan. Standar pelayanan kebidanan dapat pula digunakan untuk menentukan kompetensi yang diperlukan bidan dalam menjalani praktek sehari-hari (DepKes RI, 2002).
Untuk itu tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan obstetri dan neonatal khususnya bidan, harus mampu dan terampil memberikan pelayanan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Peningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak yang diberikan oleh bidan di Puskesmas diharapkan akan dapat mengatasi kecenderungan peningkatan angka kesakitan. kepusaan pasien yang rendah akan berdampak terhadap jumlah kunjungan yang akan mempengaruhi provibilitas rumah sakit, sedangkan sikap karyawan terhadap pasien yang akan berdampak terhadap kepuasan pasien dimana kebutuhan pasien dari waktu ke waktu akan meningkat, begitu pula tuntutannya akan mutu pelayanan yang diberikan.
Standar pelayanan menentukan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat dan sangat berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pasien. Kepuasan pasien merupakan elemen penting dalam kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Kepuasan merupakan sesuatu yang subjektif dan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Interaksi faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi kepuasan seseorang terhadap pelayanan yang diterimanya.
Didalam undang-undang pokok kesehatan tanggal 15-10-1960 BAB 1 Pasal 1 telah dinyatakan bahwa ”Tiap warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan perlu diikut sertakan dalam usaha-usaha kesehatan pemerintah” (Yasmin, 1994).
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, para ibu dan keluarganya serta masyarakat lainnya, disamping sebagi obyek, juga harus diikutsertakan dalam usaha-usaha BKIA yang bersangkutan. Dimana hal tersebut merupakan azas integrasi dari pelayanan dalam usaha KIA, sehingga secara optimal usaha-usaha BKIA yang bersangkutan akan dapat mencapai tujuan seperti yang diharapkan dalam kegiatan BKIA tersebut (Yasmin, 1994).
Di dalam Pasal 9 No. 2, juga telah dinyatakan bahwa, tujuan pokok Undang-Undang yang dimaksud adalah sebagai berikut :
”Meningkatkan derajat kesehatan ibu, bayi dan anak sampai usia 5 tahun, menjaga dan mencegah jangan sampai ketiga subjek ini tergolong dalam ”Vulnerable Group” atau Golongan Terancam bahaya (Yasmin, 1994).
Dari hasil wawancara pada saat pra survey bulan Maret 2007 yang peneliti lakukan dengan salah satu pasien setelah mendapat pelayanan KIA di Puskesmas .................., peneliti dapat menyimpulkan bahwa pasien tersebut merasa kurang puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh bidan di Puskesmas .................. dan selain itu peneliti juga memperoleh data jumlah pasien yang mendapat pelayanan di ruang KIA Puskesmas .................. adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Kunjungan Pasien di Ruang KIA Puskesmas ..................
Bulan / Tahun Bayi / Balita Ibu Hamil
Januari 2007 171 70
Februari 175 51

Dari uraian di atas, untuk mengetahui bagaimanakah tingkat kepuasan berlangsung dalam melaksanakan suatu standar mutu pelayanan kesehatan pasien di ruang KIA, maka peneliti melakukan penelitian dengan mengambil judul ”Tingkat Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan KIA oleh Bidan di Puskesmas .................. Kabupaten Lampung Tengah”. Selain itu belum pernah diadakan penelitian serupa di Puskesmas tersebut.


B. Perumusan Masalah
Dari uraian di atas, maka penulis ingin mengetahui bagaimanakah tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan KIA yang terdiri dari pemeriksaan ibu hamil, KB, ibu nifas atau ibu menyusui, oleh Bidan di Puskesmas .................. ?

C. Ruang Lingkup Penelitian
Di dalam penulisan ini penulis akan membatasi ruang lingkup penelitian agar tidak menyimpang jauh dari kontek data dan memberi kejelasan arah sesuai dengan tujuan penelitian sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Subyek Penelitian : Pasien yang memanfaatkan / mendapatkan pelayanan di ruang KIA
3. Objek Penelitian : Tingkat Kepuasan Pasien
4. Lokasi Penelitian : Di ruang KIA Puskesmas ..................
5. Waktu Penelitian : Setelah proposal disetujui

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan KIA oleh Bidan di Puskesmas ...................

2. Tujuan Khusus
Penelitian ini untuk mengetahui :
a. Tingkat kepuasan ibu hamil terhadap pemeriksaan ibu hamil yang diberikan oleh Bidan di Puskesmas ...................
b. Tingkat kepuasan ibu yang mendapat pelayanan KB oleh Bidan di Puskesmas ...................
c. Tingkat kepuasan ibu nifas atau ibu menyusui yang memeriksakan diri, terhadap pelayanan yang diberikan oleh oleh Bidan di Puskesmas ..................

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Bagi Peneliti
Penelitian ini sangat berguna untuk menambah wawasan dan pengalaman dalam penelitian serta bahan untuk penerapan ilmu yang sudah didapat selama kuliah. Khususnya mata kuliah ilmu kesehatan masyarakat dan metodologi penelitian.
2. Manfaat Bagi Tenaga Kesehatan Puskesmas ..................
Sebagai upaya peningkatan kualitas pelayanan di Puskesmas, khususnya pada Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
3. Manfaat Bagi Prodi Kebidanan ..........
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan input bagi Politeknik Kesehatan Tanjung Karang Program Studi Kebidanan ............., khususnya untuk memperluas cakrawal dibidang pelayanan Kesehatan Ibu Anak (KIA) dan dapat dijadikan sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya
4. Manfaat Bagi Ilmu dan Teknologi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kemajuan ilmu dan teknologi serta dapat dijadikan referensi bagi penelitian selanjutnya.

Karakteristik kejang demam pada anak di rumah sakit umum ......

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kejang demam merupakan salah satu kelainan saraf yang paling sering dijumpai pada bayi dan anak.Sekitar 2,2% hingga 5% anak mengalami kejang demam sebelum mereka mencapai umur 5 tahun. Sampai saat ini masih terdapat perbedaan pendapat mengenai akibat yang ditimbulkan oleh penyakit ini namun pendapat yang dominan saat ini kejang pada kejang demam tidak menyebabkan akibat buruk atau kerusakan pada otak namun kita tetap berupaya untuk menghentikan kejang secepat mungkin (Marlian L, 2005).
Kejadian kejang demam diperkirakan 2-4% da Amerika Serikat, Amerika Selatan dan Eropa Barat. Di Asia lebih tinngi kira-kira 20% kasus merupakan kejang demam komplek.Akhir-akhir ini kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 golongan yaitu kejang demam sederhana yang berlangsung kurang dari 15 menit dan umum, dan kejang demam komplek yang berlangsung lebih dari dari 15 menit, fokal atau multifel (lebih dari 1 kali kejang demam dalam 24 jam).
(Arif Manajer, 2000).
Penyakit yang disebabkan oleh gangguan saraf telah menyerang sedikitnya 1 miliyar orang diseluruh dunia. Penyakit yang telah menyerang jutaan orang di seluruh dunia ini, tidak mengenal umur, jenis kelamin, status pendidikan, maupun pendapatan. Dari 1 miliyar orang yang terkena ganguan saraf di seluruh dunia. Sebanyak 50 juta orang menderita epilepsi dan 24 juta orang menderita Alzheimer dan penyakit dimensia lainnya.
Menurut WHO diperkirakan 6,8 juta orang meninggal tiap tahun akibat ganguan syaraf (www.Dr.lion.com).
Hemiparesis biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama (berlangsung lebih dari setengah jam) baik bersifat umum maaupun fokal, kelumpuhannya sesuai dengan kejang fokal yang terjadi.
Mula-mula kelumpuhannya bersifat flasid, tetapi setelah 2 minggu spasitisitas. Millichap (1968) melaporkan dari 1190 anak menderita kejang demam, hanya 0,2% saja yang mengalami hemiparesis sesudah kejang lama.
Dari suatu penelitian terhadap 431 penderita dengan kejang demam sederhana, tidak mengalami kelainan IQ, tetapi pada penderita kejang demam yang sebelumnya telah terdapat ganguan perkembangan atau neorologis akan di dapat IQ yang lebih rendah dibanding dengan saudaranya (Millchap, 1968). Apabila kejang demam diikuti dengan terulangnya kejang demam, retradasi mental akan terjadi 5 kali lebih besar (Nellson dan Ellenberg,1978).
Berdasarkan pengamatan penulis pada waktu mengadakan prasuprey pada tanggal 16 maret 2007 di Rumah Sakit Umum Ahmad Yani di Ruang Rawat Inap terdapat 645 orang pengunjung pada tahun 2006. Diantaranya terdapat kejang demam dengan jumlah 41 balita terserang kejang demam. Dari 100% pengunjung ditemui 6,35% penderita kejang demam.
Dari data yang didapat kejang demam termasuk 4 besar yang terbanyak ditemui di Rumah Sakit Umum .................. Pada Tahun 2006.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas penulis membuat rumusan masalah penelitan sebagai berikut : ”Bagaimana Karakteristik Kejang Demam pada Anak di Rumah Sakit Umum Ahmad Yani”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui gambaran tentang karekteristik Kejang Demam Pada Anak di Rumah Sakit Ahmad Yani Umum ...................

2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui gambaran karakteristik kejang demam ditinjau dari faktor usia.
b. Untuk mengetahui gambaran karakteristik kejang demam diinjau dari faktor suhu.
c. Untuk mengetahui gambaran kqarakteristik kejang demam ditinjau dari faktor herediter.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Rumah Sakit
Dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum .................. dalam mengenali karakteristik kejang demam pada anak sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan terhadap kasus kejang demam pada anak

2. Bagi Peneliti
Agar lebih paham, tentang karakteristik kejang demam pada anak dan dapat mengaplikasikan serta mempraktekkan untuk di terapkan masyarakat pada umumnya serta anak-anak pada khususnya.

3. Bagi Program Study Kebidanan
Sebagai dokumen dan sumbangan pemikiran kepada program study kebidanan .................. dalam mengenali karakteritik kejang demam pada anak di Rumah Sakit Umum ...................

E. Ruang Lingkup Penelitian
Dengan luasnya permasalahan tentang karakteristik kejang demam pada anak penulis membatasi ruang lingkup penelitian dengan variabel sebagai berikut :
1. Subjek penelitian : Anak berusia 6 bulan sampai 4 tahun.
2. Objek penelitian : Karakteristik kejang demam pada anak
3. Lokasi penelitian : Ruang rawat inap anak Rumah Sakit Umum ...................
4. Waktu penelitian : Setelah proposal disetujui.

Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang melahirkan di bidan di desa .....

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka kematian Ibu (AKI) sebagai salah satu indikator kesehatan ibu dewasa ini masih tinggi di Indonesia bila dibandingkan dengan AKI di negara ASEAN lainnya, menurut data dari survei demografi kesehatan Indonesia (SOKI) 2002-2003, AKI di Indonesia adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini berarti bahwa lebih dari 18.000 ibu meninggal per tahun atau 2 ibu meninggal tiap jam oleh sebab yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas. Sampai dengan tahun 2002, AKI tersebut mengalami penurunan yang lambat dengan adanya krisis ekonomi tahun 1997 lalu.
Sebagian besar penyebab kematian ibu secara langsung menurut survei kesehatan rumah tangga (2001) sebesar 90% adalah komplikasi yang terjadi pada saat persalinan dan segera setelah bersalin, penyebab tersebut dikenal dengan trias klasik yaitu perdarahan (28%), eklamsia (24%) dan infeksi (11%). (Depkes RI, 2004).
Angka kematian ibu maternal berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran prilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, waktu melahirkan dan masa nifas. Hasil survey demografi kesehatan indonesia tahun 1994 menunjukkan angka kematian ibu sebesar 373 per 100.000 kelahiran hidup dan hasil SOKI 2002-2003 sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup. Untuk rata-rata angka kematian ibu maternal tahun 2003:73 AKI yang dihasilkan dari SOKI dan SKRT hanya menggambarkan angka nasional, tidak dirancang untuk mengukur angka kematian ibu. Menurut propinsi hasil soki 2002-2003 angka kematian ibu melahirkan (nasional) : 307 per 100.000 kelahiran hidup,(Dinkes Lampung Tahun 2005)
Upaya safe matherhood merupakan upaya untuk menyelamatkan wanita agar kehamilannya dan persalinannya dapat dilaluinya dengan sehat dan aman serta menghasilkan bayi yang sehat dan aman serta menghasilkan bayi yang sehat, upaya safe Matherhood terdiri dari empat pilar safe motherhood. Pilar yang kedua dari pilar safe motherhood adalah “Asuhan antenatal” dimana petugas kesehatan harus memberikan pendidikan pada ibu hamil tentang cara menjaga diri agar tetap sehat dalam masa kehamilannya, meningkatkan kesadaran mereka tentang kemungkinan adanya atau terjadinya komplikasi dalam kehamilan dalam bentuk komunikasi, informasi dan edukasi (Saifuddin, 2002).
Memperhatikan angka kematian ibu dan perinatal dapat diperkirakan bahwa sekitar 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas di saat sekitar persalinan. Untuk itu sangat diharapkan bidan, sebagai tenaga kesehatan harus ikut mendukung upaya cepat penurunan AKI, peranan bidan dalam masyarakat sebagai tenaga terlatih pada sistem kesehatan nasional salah satunya adalah meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat, terutama pada ibu hamil, dimana pendidikan kesehatan ibu hamil dapat dilakukan pada waktu pengawasan hamil di puskesmas atau pondok bersalin desa dan bidan praktek swasta, saat penyelenggaraan posyandu, pada saat diadakan pertemuan atau kegiatan-kegiatan dilingkungannya, dan saat melakukan kunjungan rumah (Manuaba, 1998).
Berdasarkan Pra Survey pada tanggal 28 Maret 2007 diwilayah kerja Puskesmas Wonosobo Kab. .................. terdapat data dari 100% ibu hamil 75% nya masih melahirkan didukun atau dirumah dan 25% nya melahirkan di Bidan atau tenaga kesehatan. Disamping lokasinya susah dijangkau karena daerah pegunungan yang berjalan terjal sehingga transportasi didesa itu sebagaian besar sepeda motor (ojek) dan hanya beberapa keluarga yang memiliki media visual seperti TV, radio dan lain-lain. Berdsarkan wawancara dengan bidan di Desa .................. terdapat 18 ibu hamil 36 ibu yang mempunyai bayi 0-12 bulan dan 228 balita. Dari wawancara tersebut pula didapatkan informasi bahwa masih banyak para ibu yang belum memahami arti pentingnya kesehatan terutama kehamilan, persalinan dan nifas setelah diberikan penyuluhan dan informasi dari tenaga kesehatan para ibu mengetahui tentang kesehatan khususnya kehamilan, persalinan dan nifas. Sehingga gangguan dalam kesehatan dan persalinan akan segera ketenaga kesehatan apabila ada gangguan atau komplikasi akan cepat terdeteksi dan tertangani. Dari uraian tersebut maka Penulis untuk mengadakan penelitian tentang gambaran pengetahuan ibu hamil tentang melahirkan di bidan di Desa .................. Kabupaten ...................


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah tersebut Penulis merumuskan masalah sebagai berikut “Bagaimana pengetahuan ibu hamil tentang melahirkan di bidan di desa .................. Kab. ..................”.

C. Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup yang diteliti sebagai berikut :
1. Sifat penelitian : Deskriptif
2. Subjek penelitian : Ibu hamil di desa .................. tentang melahirkan di bidan.
3. Objek penelitian : Pengetahuan ibu hamil tentang melahirkan di bidan di Desa .................. Kab. ...................
4. Lokasi penelitian : Desa .................. Kabupaten ...................
5. Waktu penelitian : Setelah proposal disetujui.

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang melahirkan di bidan.
2. Tujuan Khusus
Diketahuinya pengetahuan ibu tentang melahirkan di bidan meliputi :
a. Pengetahuan ibu tentang kehamilan.
b. Pengetahuan ibu tentang persalinan.
c. Pengetahuan ibu tentang masa nifas.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Ibu Hamil/Responden
Sebagai masukan bahan pengetahuan untuk ibu hamil, sehingga mereka dapat mengetahui proses kehamilan, melahirkan, nifas dan asuhan post partum, dengan demikian diharapkan gangguan/komplikasi dalam kehamilan dan persalinan dapat di deteksi secara dini melalui penyuluhan oleh tenaga kesehatan.

2. Bagi Puskesmas
Sebagai bahan masukan bagi Puskesmas Wonosobo untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang melahirkan di bidan di desa ...................

3. Bagi Bidan
Sebagai salah satu bahan masukan bagi bidan sebagai tenaga kesehatan yang berada di masyarakat, untuk melakukan tindakan promotif seperti penyuluhan dan memberikan pengetahuan ibu tentang melahirkan di bidan.

4. Bagi Institusi Pendidikan Program Studi Kebidanan ..................
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan untuk memperluas wawasan mahasiswa tentang melahirkan di bidan.

Pengetahuan dan sikap siswa kelas 1 SMP tentang pubertas di SMP ....

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Data demografi menunjukkan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia. Menurut WHO (1995) sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berumur 10-19 tahun. Sekitar 900 juta berada di negara sedang berkembang. Data demografi di Amerika Serikat (1990) menunjukkan jumlah remaja berumur 10-19 tahun sekitar 15% populasi. Di Asia Pasifik dimana penduduknya merupakan 60% dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja umur 10-19 tahun. Di Indonesia menurut Biro Pusat Statistik (1999) kelompok umur 10-19 tahun adalah sekitar 22%, yang terdiri dari 50,9% remaja laki-laki dan 49,1% remaja perempuan (dikutip dari Nancy P, 2002) (Soetjiningsih, 2004 : 1).
Seringkali dalam pembahasan soal remaja digunakan istilah pubertas. Istilah pubertas digunakan untuk menyatakan perubahan biologis yang meliputi morfologi dan fisiologi yang terjadi dengan pesat dari masa anak-anak ke masa dewasa, terutama kapasitas reproduksi yaitu perubahan alat kelamin dari tahap anak ke dewasa.
Pertumbuhan yang terjadi pada masa pubertas sekitar 20% dari tinggi akhir, rata-rata keseluruhannya 23-28 cm pada remaja perempuan dan 26-28 cm pada remaja laki-laki. Rata-rata pacu tumbuh terjadi selama 24-36 bulan. Puncak kecepatan tinggi badan (PHV) pada remaja perempuan terjadi 18-24 bulan lebih cepat dari pada remaja laki-laki (Soetjiningsih, 2004 : 5).
Pubertas terlambat (delayed puberty) pada perempuan didefinisikan tidak membesarnya payudara sampai umur 13 tahun, tidak adanya menstruasi sampai umur 15 tahun. Pada laki-laki pubertas terlambat adalah bila panjang testis tidak mencapai 2,5 cm atau volume testis tidak mencapai 4 ml sampai umur 14 tahun. Secara statistik pubertas yang mengalami keterlambatan sebanyak 2,5 dari normal populasi remaja pada kedua kelamin (Soetjiningsih, 2004 : 67).
Keterlambatan pubertas pada remaja sangat mempengaruhi secara psikososial. Pengaruh tersebut antara lain: Gejala tekanan emosional seperti mudah marah dan depresi, gangguan psikomotor seperti sakit perut, menjauhi teman-teman sebayanya, penampilan bersekolah yang kurang, peningkatan absen sekolah penurunan aktivitas olah raga, perkataan dan pendidikan yang tidak adekuat, peningkatan ketergantungan.
Kurangnya pemahaman tentang perilaku seksual pada masa remaja amat merugikan bagi remaja sendiri termasuk keluarga, sebab pada masa ini remaja mengalami perkembangan yang penting yaitu kognitif, emosi, sosial dan seksual. Perkembangan ini akan berlangsung mulai sekitar 12 tahun sampai 20 tahun. Kurangnya pemahaman ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain: adat istiadat, budaya, agama dan kurangnya informasi dari sumber yang benar. Kurangnya pemahaman ini akan mengakibatkan berbagai dampak yang justru amat merugikan kelompok remaja dan keluarganya. Dilaporkan bahwa 80% laki-laki dan 70% perempuan melakukan hubungan seksual selama masa pubertas dan 20% dari mereka mempunyai empat atau lebih pasangan. Ada sekitar 53% perempuan berumur antara 15-19 tahun melakukan hubungan seksual pada masa remaja, sedangkan jumlah laki-laki yang melakukan hubungan seksual sebanyak dua kali lipat dari pada perempuan (Soetjiningsih, 2004 : 133).
Berdasarkan uraian diatas didapat bahwa tingkat pengetahuan mengenai perubahan pada masa pubertas sangat mempengaruhi sikap dan pola perilaku remaja. Oleh karena itu peneliti merasa perlu melakukan penelitian tentang hal tersebut. Hal ini penting karena dengan mengetahui sejauh mana perubahan yang sering terjadi dalam diri remaja maka remaja akan mengambil sikap yang benar dalam menghadapi hal tersebut. Peneliti ingin mengetahui tingkat pengetahuan remaja mengenai perubahan masa pubertas yang dialami oleh remaja itu sendiri.
SMP .................. adalah salah satu sekolah di Bandar Lampung dari studi pendahuluan yang penulis lakukan di SMP tersebut diatas melalui wawancara langsung dengan siswa-siswi kelas 1 tanggal 22 Maret 2007 sebanyak 11 orang, diperoleh bahwa belum pernah ada penyuluhan atau informasi tentang pubertas remaja. Dengan banyaknya jumlah remaja yang sedang masa pubertas dan kompleksitas permasalahan yang akan dihadapi remaja, maka penulis perlu mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap para siswa-siswi SMP .................. kelas 1 khususnya tentang pubertas.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan diatas, maka penulis merumuskan masalah yaitu “Bagaimanakah tingkat pengetahuan dan sikap siswa-siswi kelas 1 tentang pubertas?”.



C. Ruang Lingkup Penelitian
Penulis membatasi ruang lingkup yang diteliti sebagai berikut :
1. Sifat Penelitian : Studi Deskriptif
2. Subyek Penelitian : Siswa kelas 1 SMP
3. Objek Penelitian : Pengetahuan dan sikap siswa kelas 1 tentang
pubertas
4. Lokasi Penelitian : SMP ..................
5. Waktu Penelitian : Mei - Juni 2007

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Memperoleh tingkat pengetahuan dan sikap siswa SMP kelas 1 tentang pubertas.

2. Tujuan Khusus
a. Memperoleh pengetahuan siswa / siswi tentang pubertas di SMP ...................
b. Memperoleh pengetahuan siswa / siswi tentang ciri-ciri pubertas.
c. Memperoleh pengetahuan siswa / siswi tentang perubahan fisik yang terjadi pada saat pubertas.
d. Memperoleh pengetahuan siswa /siswi tentang bahaya pada masa puber.
e. Memperoleh sikap siswa / siswa tentang pubertas di SMP ...................

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi :
1. Instansi Tempat Penelitian
Sebagai masukan informasi bagi pihak sekolah tentang keadaan remaja awal saat ini sehingga pihak sekolah dapat mencari solusi dalam membantu menyelesaikan masalah yang siswa kelas 1 hadapi dan dapat membantu dalam mempersiapkan masa pubertasnya.

2. Bagi Siswa-Siswi
Penulis berharap bahwa penelitian ini akan bermanfaat sebagai bahan masukan bagi siswa yang sudah memasuki masa pubertas. Dengan adanya penyuluhan tentang pubertas disekolah, mudah-mudahan mereka memahami dan mengetahui masalah-masalah yang berhubungan dengan pubertas, agar mereka tidak terjerumus kearah negatif.

3. Bagi Penelitian Selanjutnya
Sebagai bahan informasi untuk penelitian selanjutnya yang akan melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang pubertas.

Pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Nyeri merupakan bagian integral dari persalinan dan melahirkan (Melzack, 1984 dalam Rosemary Mander, 2004). Ini berarti setiap persalinan dan melahirkan pasti disertai nyeri. Nyeri saat persalinan tidak semua dapat diadaptasi oleh ibu meskipun nyeri tersebut merupakan hal yang fisiologis dalam proses persalinan, sehingga tidak jarang nyeri persalinan menyebabkan meningkatnya rasa takut atau cemas pada ibu.
Dampak dari rasa kecemasan ibu tersebut dikenal dengan ”Respon melawan atau menghindar (Fight or Flight)”. Respon fight or flight yaitu suatu proses fisiologis yang meningkatkan kemampuan menyelamatkan diri pada hewan atau manusia yang mengalami bahaya atau ketakutan. Respon ini dipicu oleh adanya bahaya fisik, ketakutan, kecemasan, dan bentuk distress lainnya, disamping itu respon fight or flight juga dipicu oleh melimpahnya kadar katekolamin atau hormon stres seperti efineprin, norefineprin dan kortisol.
Peningkatan kadar katekolamin pada ibu bersalin yang dipicu karena kecemasan akibat nyeri juga akan menyebabkan penurunan aliran darah ke rahim, penurunan konstraksi rahim dan peningkatan waktu lamanya kala I, sedangkan peningkatan kadar katekolamin pada janin akan menyebabkan penurunan aliran darah ke plasenta, penurunan oksigen dan penurunan Denyut Jantung Janin (DJJ) (Penny Simkin & Ruth Ancheta, 2005).
Nyeri hebat dan kontinyu pada proses persalinan dapat menimbulkan perubahan pada fungsi tubuh yang bermakna antara lain hiperventilasi (4-20 kali dari normal) dengan alkalosis respiratorik berat, kenaikan curah jantung ( 50-150%), kenaikan tekanan darah (20-40%), kenaikan metabolisme dan konsumsi oksigen, sedangkan motilitas saluran pencernaan dan buli-buli menurun.
Nyeri dan psikis (kecemasan atau keadaan emosi wanita) juga merupakan penyebab intrinsik distosia pada persalinan, sedangkan distosia persalinan merupakan indikasi paling umum untuk kejadian seksio sesarea primer. Distosia juga berperan tidak langsung terhadap jumlah berulangnya seksio sesarea, sebagai contoh, di Amerika serikat pada tahun 1996 angka kelahiran pervaginam relatif rendah dari pada angka kejadian seksio sesarea yaitu menunjukkan angka kurang dari 30%.
Nyeri yang ikut mempengaruhi proses persalinan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu : iskemia dinding korpus, peregangan vagina, keadaan mental ibu serta peningkatan prostaglandin sebagai respon terhadap stres. Fase laten pada beberapa wanita menjadi sangat nyeri karena beberapa alasan, diantaranya karena penyebab fisik seperti kontraksi yang dipicu oksitosin, kondisi yang mengharuskan ibu untuk tetap di tempat tidur, luka parut pada serviks serta janin pada posisi oksiput posterior, sedangkan penyebab nyeri secara psikologis meliputi ketakutan, kecemasan, kesendirian, stres, kelelahan, kemarahan dan perasaan putus asa serta takut akan hal-hal yang tidak di ketahui atau mengasihani diri sendiri.
Di negara yang sudah maju penanggulangan nyeri pada persalinan sudah lama berkembang. Di Indonesia sendiri walaupun banyak yang berpendapat bahwa rasa sakit itu wajar dalam persalinan, tetapi ada beberapa rumah sakit, terutama untuk persalinan dengan tindakan darurat, usaha untuk mengurangi rasa sakit ini dilakukan walaupun masih secara konvensional, yaitu dengan cara pemberian obat-obatan narkotika atau sedativa.
Menurut Simkin (1989) wanita yang akan bersalin ingin mengurangi nyeri yang dirasakannya tetapi tidak dengan metode farmakologis, alasannya yaitu adanya rasa kekecewaan yang meningkatkan kesadaran adanya efek samping dari pengobatan yang merugikan, nyeri persalinan merupakan tanggung jawabnya sendiri dan nyeri persalinan merupakan pengaruh dari perawatan diri. Simkin (1989) menyebutnya 3 fenomena paralel yang mempengaruhi minat wanita bersalin.
Kompres panas/ hangat, kompres dingin, hidroterapi, perubahan posisi dan ambulasi, dukungan dalam persalinan, relaksasi, musik, teknik pernapasan, penekanan pada lutut/ tumit/ pada tulang metakarpal adalah beberapa metode pengurangan nyeri pada persalinan non farmakologis.
Bidan sebagai salah satu ujung tombak dalam pemberian pelayanan kesehatan maternal yang berkualitas, harus mempunyai kemampuan yang memadai dalam memberikan pelayanan terhadap ibu bersalin termasuk dalam hal pengurangan/ penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis. Bukan saja kemampuan dalam mengenal/ mengetahui metode/ teknik-teknik pengurangan nyeri pada persalinan tetapi juga mampu melaksanakannya pada tiap-tiap ibu bersalin. Sehingga ibu mampu melewati persalinannya dengan nyaman dan aman.
Berdasarkan hasil pengamatan dari peneliti, para bidan di wilayah kerja puskesmas .................. yang terdiri dari 13 orang bidan, dimana 5 orang diantaranya telah lulus program DIII kebidanan dan 8 orang lainnya DI kebidanan, pada saat menolong persalinan hanya menggunakan tehnik pernafasan, dukungan persalinan dan relaksasi dalam mengurangi nyeri persalinan, padahal masih terdapat metode penanggulangan nyeri lainnya.
Berdasarkan data tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih dalam pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis di wilayah kerja puskesmas .................. tahun 2007.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka peneliti membuat rumusan masalah : “Bagaimanakah pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis di wilayah kerja Puskesmas .................. tahun 2007”.


C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menetapkan ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Objek Penelitian : Pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis dengan metode kompres panas, kompres dingin, penekanan pada lutut (knee press) dan pernafasan.
3. Subjek penelitian : Semua bidan dengan latar belakang pendidikan D1 kebidanan dan bertugas di wilayah kerja Puskesmas ...................
4. Lokasi penelitian : Wilayah kerja Puskesmas ..................
5. Waktu Penelitian : 4 – 6 – 2007 s/d 10 – 6 - 2007
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis di wilayah kerja Puskesmas ..................

2. Tujuan Khusus
Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk :
a. Diketahuinya pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis dengan menggunakan kompres panas/ hangat.
b. Diketahuinya pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis dengan menggunakan metode kompres dingin
c. Diketahuinya pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis dengan menggunakan metode penekanan pada lutut (knee press)
d. Diketahuinya pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis dengan menggunakan metode pernafasan.

E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
1. Bagi puskesmas ..................
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi tenaga puskesmas .................. dalam meningkatkan pengetahuan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis.
2. Bagi Bidan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dalam menerapkan metode penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis pada praktek kebidanan sehingga mampu meningkatkan mutu pelayanan maternal yang berkualitas.
3. Bagi Prodi Kebidanan ..................
Sebagai bahan pertimbangan atau bahan masukan dalam melakukan penelitian yang berkaitan dengan penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis.

Delete this element to display blogger navbar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls