Kamis, 16 Desember 2010

Pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Nyeri merupakan bagian integral dari persalinan dan melahirkan (Melzack, 1984 dalam Rosemary Mander, 2004). Ini berarti setiap persalinan dan melahirkan pasti disertai nyeri. Nyeri saat persalinan tidak semua dapat diadaptasi oleh ibu meskipun nyeri tersebut merupakan hal yang fisiologis dalam proses persalinan, sehingga tidak jarang nyeri persalinan menyebabkan meningkatnya rasa takut atau cemas pada ibu.
Dampak dari rasa kecemasan ibu tersebut dikenal dengan ”Respon melawan atau menghindar (Fight or Flight)”. Respon fight or flight yaitu suatu proses fisiologis yang meningkatkan kemampuan menyelamatkan diri pada hewan atau manusia yang mengalami bahaya atau ketakutan. Respon ini dipicu oleh adanya bahaya fisik, ketakutan, kecemasan, dan bentuk distress lainnya, disamping itu respon fight or flight juga dipicu oleh melimpahnya kadar katekolamin atau hormon stres seperti efineprin, norefineprin dan kortisol.
Peningkatan kadar katekolamin pada ibu bersalin yang dipicu karena kecemasan akibat nyeri juga akan menyebabkan penurunan aliran darah ke rahim, penurunan konstraksi rahim dan peningkatan waktu lamanya kala I, sedangkan peningkatan kadar katekolamin pada janin akan menyebabkan penurunan aliran darah ke plasenta, penurunan oksigen dan penurunan Denyut Jantung Janin (DJJ) (Penny Simkin & Ruth Ancheta, 2005).
Nyeri hebat dan kontinyu pada proses persalinan dapat menimbulkan perubahan pada fungsi tubuh yang bermakna antara lain hiperventilasi (4-20 kali dari normal) dengan alkalosis respiratorik berat, kenaikan curah jantung ( 50-150%), kenaikan tekanan darah (20-40%), kenaikan metabolisme dan konsumsi oksigen, sedangkan motilitas saluran pencernaan dan buli-buli menurun.
Nyeri dan psikis (kecemasan atau keadaan emosi wanita) juga merupakan penyebab intrinsik distosia pada persalinan, sedangkan distosia persalinan merupakan indikasi paling umum untuk kejadian seksio sesarea primer. Distosia juga berperan tidak langsung terhadap jumlah berulangnya seksio sesarea, sebagai contoh, di Amerika serikat pada tahun 1996 angka kelahiran pervaginam relatif rendah dari pada angka kejadian seksio sesarea yaitu menunjukkan angka kurang dari 30%.
Nyeri yang ikut mempengaruhi proses persalinan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu : iskemia dinding korpus, peregangan vagina, keadaan mental ibu serta peningkatan prostaglandin sebagai respon terhadap stres. Fase laten pada beberapa wanita menjadi sangat nyeri karena beberapa alasan, diantaranya karena penyebab fisik seperti kontraksi yang dipicu oksitosin, kondisi yang mengharuskan ibu untuk tetap di tempat tidur, luka parut pada serviks serta janin pada posisi oksiput posterior, sedangkan penyebab nyeri secara psikologis meliputi ketakutan, kecemasan, kesendirian, stres, kelelahan, kemarahan dan perasaan putus asa serta takut akan hal-hal yang tidak di ketahui atau mengasihani diri sendiri.
Di negara yang sudah maju penanggulangan nyeri pada persalinan sudah lama berkembang. Di Indonesia sendiri walaupun banyak yang berpendapat bahwa rasa sakit itu wajar dalam persalinan, tetapi ada beberapa rumah sakit, terutama untuk persalinan dengan tindakan darurat, usaha untuk mengurangi rasa sakit ini dilakukan walaupun masih secara konvensional, yaitu dengan cara pemberian obat-obatan narkotika atau sedativa.
Menurut Simkin (1989) wanita yang akan bersalin ingin mengurangi nyeri yang dirasakannya tetapi tidak dengan metode farmakologis, alasannya yaitu adanya rasa kekecewaan yang meningkatkan kesadaran adanya efek samping dari pengobatan yang merugikan, nyeri persalinan merupakan tanggung jawabnya sendiri dan nyeri persalinan merupakan pengaruh dari perawatan diri. Simkin (1989) menyebutnya 3 fenomena paralel yang mempengaruhi minat wanita bersalin.
Kompres panas/ hangat, kompres dingin, hidroterapi, perubahan posisi dan ambulasi, dukungan dalam persalinan, relaksasi, musik, teknik pernapasan, penekanan pada lutut/ tumit/ pada tulang metakarpal adalah beberapa metode pengurangan nyeri pada persalinan non farmakologis.
Bidan sebagai salah satu ujung tombak dalam pemberian pelayanan kesehatan maternal yang berkualitas, harus mempunyai kemampuan yang memadai dalam memberikan pelayanan terhadap ibu bersalin termasuk dalam hal pengurangan/ penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis. Bukan saja kemampuan dalam mengenal/ mengetahui metode/ teknik-teknik pengurangan nyeri pada persalinan tetapi juga mampu melaksanakannya pada tiap-tiap ibu bersalin. Sehingga ibu mampu melewati persalinannya dengan nyaman dan aman.
Berdasarkan hasil pengamatan dari peneliti, para bidan di wilayah kerja puskesmas .................. yang terdiri dari 13 orang bidan, dimana 5 orang diantaranya telah lulus program DIII kebidanan dan 8 orang lainnya DI kebidanan, pada saat menolong persalinan hanya menggunakan tehnik pernafasan, dukungan persalinan dan relaksasi dalam mengurangi nyeri persalinan, padahal masih terdapat metode penanggulangan nyeri lainnya.
Berdasarkan data tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih dalam pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis di wilayah kerja puskesmas .................. tahun 2007.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka peneliti membuat rumusan masalah : “Bagaimanakah pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis di wilayah kerja Puskesmas .................. tahun 2007”.


C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menetapkan ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Objek Penelitian : Pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis dengan metode kompres panas, kompres dingin, penekanan pada lutut (knee press) dan pernafasan.
3. Subjek penelitian : Semua bidan dengan latar belakang pendidikan D1 kebidanan dan bertugas di wilayah kerja Puskesmas ...................
4. Lokasi penelitian : Wilayah kerja Puskesmas ..................
5. Waktu Penelitian : 4 – 6 – 2007 s/d 10 – 6 - 2007
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis di wilayah kerja Puskesmas ..................

2. Tujuan Khusus
Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk :
a. Diketahuinya pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis dengan menggunakan kompres panas/ hangat.
b. Diketahuinya pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis dengan menggunakan metode kompres dingin
c. Diketahuinya pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis dengan menggunakan metode penekanan pada lutut (knee press)
d. Diketahuinya pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis dengan menggunakan metode pernafasan.

E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
1. Bagi puskesmas ..................
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi tenaga puskesmas .................. dalam meningkatkan pengetahuan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis.
2. Bagi Bidan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dalam menerapkan metode penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis pada praktek kebidanan sehingga mampu meningkatkan mutu pelayanan maternal yang berkualitas.
3. Bagi Prodi Kebidanan ..................
Sebagai bahan pertimbangan atau bahan masukan dalam melakukan penelitian yang berkaitan dengan penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis.

Gambaran pasangan usia subur yang tidak mengikuti keluarga berencana

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Program Keluarga Berencana nasional bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil yang berbahagia sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pertumbuhan penduduk, dan membantu usaha peningkatan perpanjangan harapan hidup, menurunnya tingkat kematian bayi serta menurunnya kematian ibu karena kehamilan dan persalinan (Hartanto,2002). Keluarga Berencana Nasional mempunyai arti penting dalam pelaksanaan pembangunan dibidang kependudukan dan keluarga kecil berkualitas sehingga harus dilaksanakan secara berkesinambungan (BKCS-KB Kota ..................,2006).
Upaya menekan jumlah warga yang hidup dibawah garis kemiskinan dan mencegah terjadinya kelaparan, mustahil ditempuh tanpa mengendalikan secara ketat tingkat kelahiran. Pengendalian pertumbuhan dan jumlah penduduk memiliki implikasi terhadap peningkatan sumber daya manusia dan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan kualitas sumber daya manusia sulit terlaksana jika jumlah penduduk tidak terkendali. Jumlah penduduk Indonesia mencapai 220 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 1,49% pertahun artinya setiap tahun jumlah penduduk Indonesia bertambah 3 – 3,5 juta jiwa dan ini hampir sama dengan jumlah penduduk Singapura.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) memproyeksikan pada tahun 2025 penduduk Indonesia akan berjumlah 273,6 juta jiwa. Jika Keluarga Berencana tidak ditangani dengan serius jumlah penduduk akan lebih besar dari jumlah tersebut. Berarti beban pemerintah pusat, propinsi, dan kabupaten/kota akan sangat berat dalam penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan, pendidikan, lapangan kerja dan lain-lain.
Angka kematian ibu masih tinggi yaitu 390 per 100.000 kelahiran. Progarm Keluarga Berencana berpotensi menyelamatkan kehidupan melalui 2 keadaan yaitu dengan cara memungkinkan wanita untuk merencanakan kehamilan sedemikian rupa sehingga dapat menghindari terjadinya kehamilan pada umur tertentu atau jumlah persalinan yang membawa bahaya tambahan dengan cara nenurunkan tingkat kesuburan secara umum yaitu mengurangi jumlah kematian absolut dalam populasi, dan mengurangi jumlah kehamilan yang tak diinginkan sehingga mengurangi praktek pengguguran yang ilegal berikut kematian yang ditimbulkannya (Royston, 1994).
Di Indonesia terdapat 66% PUS yang mengikuti Keluarga Berencana, hal ini berarti ada sekitar 34% PUS di Indonesia yang tidak mengikuti Keluarga Berencana. Kondisi tersebut bila tidak diintervensi, dikhawatirkan dalam beberapa tahun kedepan Indonesia akan mengalami ledakan jumlah penduduk.
Berdasarkan data Badan Kesejahteraan Catatan Sipil Keluarga Berencana (BKCS-KB) Kota .................. pada bulan Desember tahun 2006 jumlah peserta PUS diwilayah Kota .................. sebesar 24.331 pasangan, dengan jumlah peserta Keluarga Berencana aktif sebanyak 17.741 pasangan dan PUS yang tidak mengikuti Keluarga Berencana diwilayah Kota .................. sebanyak 6585 pasangan dengan persentase 27,08% (BKCS-KB Kota ..................,2006).
Berdasarkan data Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kecamatan .................. jumlah PUS yang tidak mengikuti Keluarga Berencana diwilayah .................. sebesar 1582 pasang dengan persentase 29,56%. PUS yang tidak mengikuti Keluarga Berencana tertinggi berada di Kelurahan .................. sebesar 477 pasangan dengan persentase 30,13% dengan perincian sebagai berikut:
Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Pendataan Keluarga Tingkat Kecamatan Tahun 2006.
No Kelurahan PUS Bukan Peserta KB
Hamil Ingin anak segera Ingin anak ditunda Tidak ingin anak lagi
1. .................. 77 83 171 223
2. Yosodadi 42 67 65 97
3. Yosorejo 43 80 99 136
4. Tejosari 13 16 29 119
5. Tejo Agung 29 37 46 110
Jumlah 204 283 410 685
Sumber : PLKB Kecamatan .................. Tahun 2006
Wanita saat akan menentukan kapan dan metode kontrasepsi apa yang akan digunakan harus mempertimbangkan pengaruh metode kontrasepsi terhadap fungsi reproduksi, salah satu alasan yang paling banyak disebutkan dalam penghentian kontrasepsi adalah efek samping yang dirasakan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh WHO pada 5332 wanita yang telah mempunyai anak di 14 negara berkembang menunjukkan bahwa banyak wanita berhenti menggunakan kontrasepsi IUD, oral dan suntik dikarenakan mereka tidak dapat menerima perubahan pola menstruasi (Klobinsky,1997).

Perasaan dan kepercayaan wanita mengenai tubuh dan seksualitasnya tidak dapat dikesampingkan dalam pengambilan keputusan dalam menggunakan kontrasepsi. Banyak wanita takut siklus normalnya berubah karena mereka takut perdarahan yang lama dapat mengubah pola hubungan seksual dan juga dapat membatasi aktivitas keagamaan maupun budaya. Dinamika seksual dan kekuasaan antara pria dan wanita dapat menyebabkan penggunaan kontrasepsi terasa canggung bagi wanita. Pendapat suami mengenai Keluarga Berencana cukup kuat pengaruhnya untuk menentukan penggunaan metode keluarga berencana oleh istri. Berbagai budaya mendukung kepercayaan bahwa pria mempunyai hak akan fertilitas istri mereka. Di Papua Nugini dan Nigeria, wanita tidak dapat membeli kontrasepsi tanpa persetujuan suami.(Klobinsky,1997).
Tingginya jumlah PUS yang tidak mengikuti Keluarga Berencana di Kelurahan .................. menarik minat peneliti untuk melakukan penelitian tentang gambaran pasangan usia subur yang tidak mengikuti Keluarga Berencana di Kelurahan ...................

B. Rumusan masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah diatas, maka peneliti merumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu “Bagiamana Gambaran Pasangan Usia Subur Yang Tidak Mengikuti Keluarga Berencana di Kelurahan .................. pada tahun 2006?”





C. Ruang lingkup penelitian
Dalam masalah ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut:
1. Jenis penelitian : Deskriptif
2. Subyek penelitian : PUS yang tidak mengikuti Keluarga Berencana usia 15-49 tahun 2006
3. Obyek penelitian : Gambaran PUS yang tidak mengikuti Keluarga Berencana di Kelurahan .................. ditinjau dari ekonomi, efek samping dan dukungan suami.
4. Lokasi penelitian : Kelurahan .................., Kecamatan ..................
5. Waktu penelitian : Dilakukan pada tanggal 11 – 16 Juni 2007

D. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pasangan usia subur yang tidak mengikuti Keluarga Berencana di Kelurahan .................. tahun 2007 ditinjau dari faktor ekonomi, efek samping dan dukungan suami.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:
a. Diketahuinya alasan PUS tidak mengikuti Keluarga Berencana ditinjau dari faktor ekonomi di Kelurahan ...................
b. Diketahuinya alasan PUS tidak mengikuti Keluarga Berencana ditinjau dari faktor efek samping di Kelurahan ...................
c. Diketahuinya alasan PUS tidak mengikuti Keluarga Berencana ditinjau dari faktor dukungan suami di Kelurahan ...................

E. Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
1. Bagi Peneliti
Bagi peneliti manfaat penelitian ini adalah untuk meningkatkan dan menambah pengetahuan serta pengalaman dalam penulisan KTI terkait dengan faktor – faktor yang mempengaruhi PUS tidak mengikuti Keluarga Berencana
2. Bagi tempat penelitian
Bagi tempat penelitian diharapkan dapat menjadi bahan evalusi tenaga kesehatan dan Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana untuk meningkatkan kesertaan PUS dalam mengikuti Keluarga Berencana.
3. Bagi Studi Kebidanan ..................
Bagi Institusi Pendidikan diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan menambah wawasan mahasiswa tentang faktor-faktor yang mempengaruhi PUS tidak mengikuti Keluarga Berencana dan menjadikan penelitian berikutnya menjadi lebih baik terkait dengan gambaran PUS tidak menigkuti Keluarga Berencana ditinjau dari ekonomi, efek samping dan dukungan suami.

Gambaran penatalaksanaan pre-operasi seksio sesarea

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Besarnya persalinan secsio sesarea (SC) dibandingkan persalinan normal tetap mengandung risiko dan kerugian yang lebih besar seperti risiko kematian dan komplikasi yang lebih besar seperti resiko kesakitan dan menghadapi masalah fisik pasca operasi seperti timbulnya rasa sakit, perdarahan, infeksi, kelelahan, sakit punggung, sembelit dan gangguan tidur juga memiliki masalah secara psikologis karena kehilangan kesempatan untuk berinteraksi dengan bayi dan merawatnya (Depkes RI, 2006 : 9).
Di Indonesia terutama di kota-kota besar, keputusan ibu hamil untuk melahirkan dengan SC walau tidak memiliki indikasi medis paling banyak disebabkan oleh adanya ketakutan menghadapi persalinan normal atau yang lebih dikenal sebagai rasa takut akan kelahiran (fear of childbirth) akan tetapi di Indonesia faktor psikologis ibu ini nampak kurang diperhatikan (Kasdu dalam Depkes RI, 2006 : 9-10). Oleh karena itu pentingnya suatu perencanaan yang menyangkut pada kesehatan fisik dan psikis calon orang tua serta kesehatan janin. (Kasdu, 2003 : 32-33).
Berdasarkan hasil penelitian terdapat sekitar 20 % persalinan harus dilakukan dengan SC, baik karena pertimbangan untuk menyelamatkan ibu dan janinnya ataupun keinginan pribadi pasien (Kasdu, 2003 : iii). Persalinan secara SC di Amerika Serikat terdapat 85 % dengan indikasi riwayat SC, distosia persalinan, gawat janin dan letak sungsang (Cunningham, dkk, 2006 : 595). Sedangkan di Indonesia menurut Survei Demografi dan Kesehatan pada tahun 1997 dan tahun 2002-2003 mencatat angka persalinan SC secara nasional hanya berjumlah kurang lebih 4 % dari jumlah total persalinan. Secara umum jumlah SC di rumah sakit pemerintah adalah sekitar 20-25 % dari total persalinan, sedangkan di rumah sakit swasta jumlahnya sangat tinggi yaitu sekitar 30-80 % dari total persalinan (Depkes RI, 2006 : 9). Berdasarkan data yang diperoleh dari catatan Medical Record RSUD .................. tahun 2006, didapatkan data bahwa angka kejadian SC di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jendral Ahmad Yani Kota .................. sebesar 11, 27 % dari total persalinan (Medical Record, 2006) dan dari informasi sejumlah mahasiswa yang mempunyai pengalaman magang dan pengalaman pasien yang pernah menjalani operasi SC di ruang bersalin RSUD .................., penatalaksanaan pre-operasi SC belum dilaksanakan semuanya sesuai dengan teori dalam asuhan kebidanan.
Tingginya persentase persalinan SC menimbulkan kekhawatiran bahwa hal ini disebabkan semakin banyaknya persalinan bedah tanpa indikasi medis, melainkan karena permintaan ibu hamil yang memandang SC merupakan alternatif yang lebih baik dibandingkan persalinan normal. (Depkes RI, 2006 : 9). Seharusnya SC dilakukan jika keadaan medis memerlukannya. Dalam hal ini, janin atau ibu dalam keadaan gawat darurat dan hanya dapat diselamatkan jika persalinan dilakukan dengan jalan operasi atau SC (Kasdu, 2003 : 9). Indikasi medis untuk SC adalah jika terjadi disproporsi sevalopelvik, gawat janin, plasenta previa, incoordinate uterine action, eklampsia, dan hipertensi (Mansjoer, dkk, 2005 : 344-345).
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk meninjau penatalaksanaan pre-operasi SC di ruang bersalin RSUD ...................
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti membuat rumusan masalah sebagai berikut: ” Bagaimana gambaran penatalaksanaan persiapan pre-operasi secsio sesarea di ruang bersalin RSUD .................. Tahun 2007?”
C. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini antara lain :
1. Lokasi dan waktu penelitian : penelitian ini akan dilaksanakan di ruang bersalin RSUD .................. pada bulan Juni 2007.
2. Variabel penelitian : variabel bebas penelitian ini adalah penatalaksanaan pre-operasi SC yang meliputi penatalaksanaan persiapan mental spiritual, penatalaksanaan persiapan fisik penderita, pemeriksaan laboratorium dan pramedikasi, sedangkan variabel terikat penelitian ini adalah tenaga kesehatan yang bertugas di ruang bersalin RSUD ...................
3. Jenis penelitian ini : deskriptif.
4. Subjek dan objek penelitian : subjek penelitian ini adalah tenaga kesehatan yang bertugas di ruang bersalin RSUD .................. dan yang menjadi objek penelitian adalah ibu yang bersalin dengan SC di Ruang Bersalin RSUD .................. tahun 2007.
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui gambaran penatalaksanaan pre-operasi SC di ruang bersalin RSUD .................. tahun 2007.
2. Tujuan khusus penelitian ini untuk :
a. Mengetahui gambaran penatalaksanaan persiapan mental spiritual pre-operasi SC di ruang bersalin RSUD ...................
b. Mengetahui gambaran penyuluhan pre-operasi SC di ruang bersalin RSUD ...................
c. Mengetahui gambaran penatalaksanaan persiapan fisik penderita di ruang bersalin RSUD ...................
d. Mengetahui gambaran penatalaksanaan laboratorium di ruang bersalin RSUD ...................
e. Mengetahui gambaran penatalaksanaan premedikasi di ruang bersalin RSUD ...................
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi RSUD .................. diharapkan dapat memberikan gambaran mutu pelayanan dalam penatalaksanaan dan sebagai bahan untuk motivasi meningkatkan mutu pelayanan dalam penatalaksanaan persiapan pre-operasi SC.
2. Institusi pendidikan Program Studi Kebidanan .................., memberikan bahan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan tentang penatalaksanaan persiapan pre-operasi SC dalam silabus pembelajaran.
3. Bagi penelitian lainnya, sebagai bahan perbandingan dan masukan untuk melakukan penelitian selanjutnya tentang penatalaksanaan persiapan pre-operasi SC.

Faktor-faktor penyebab gangguan pemberian ASI pada ibu di desa .....

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada waktu lahir bayi mempunyai berat badan sekitar 3 kg dan panjang badan 50 cm. Pada umur 5 – 6 bulan berat badan bayi sudah mencapai dua kali, pada umur 12 bulan sudah 3 kali berat badan lahir, dan tahun-tahun berikutnya kenaikan berat badan tidak begitu cepat lagi lebih kurang 2 kg tiap tahunnya (Pudjiadi, 1997). Tetapi rata-rata pertambahan berat badan perbulan pada kelompok bayi yang diberi ASI eksklusif lebih besar dari pada bayi yang tidak diberi ASI eksklusif. Selain itu proporsi bayi yang mengalami gangguan kesehatan berupa diare, panas, batuk dan pilek pada kelompok bayi yang tidak diberi ASI eksklusif lebih besar dari pada bayi yang mendapat ASI eksklusif (Depkes RI, 2004).
Pemberian ASI dirasakan sangat menurun di beberapa negara industri dan menurun sangat cepat di negara-negara berkembang (G.J.Ebrahim, 1986). Bukti-bukti penurunan ibu dalam pemberian ASI di negara-negara maju misalnya di Amerika pada awal abad ke-20 kira-kira 71% ibu yang memberi ASI dan menurun menjadi 25%. Di Singapura pada tahun 1951 pada ibu dengan sosial ekonomi sedang dan baik 48% bayi mendapat ASI sedangkan pada golongan sosial ekonomi rendah 71%. Tetapi dalam waktu 1 tahun (1961) keadaan ini menurun menjadi 8% ibu-ibu dengan sosial ekonomi sedang dan 42% ibu-ibu dengan sosial ekonomi rendah (Soetjiningsih, 1997).
Di Indonesia menurut hasil Survei Demografi Dan Kesehatan Indonesia tahun 1997 memperlihatkan hanya 52% ibu yang memberikan ASI kepada bayinya. Dipastikan persentase tersebut jauh menurun bila dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, 15 tahun lalu sebuah penelitian terhadap 460 bayi rawat gabung (rooming in) di RSCM memperlihatkan bahwa 71,1% ibu tidak memberi ASI eksklusif kepada bayinya (sampai berumur 2 bulan) sedangkan 20,2% diantaranya memberi ASI eksklusif (Pdpersi, 2004).
Di Lampung persentase jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif sudah cukup tinggi yaitu 70,33% atau 2.190 bayi dari jumlah bayi keseluruhan 3.114 bayi bila dibandingkan dengan provinsi tetangga seperti Jakarta dan Bengkulu yang masing-masing 64,49% atau 332 bayi dari jumlah bayi 5000 bayi dan 64,49% atau 74.905 bayi dari jumlah bayi 116.149 bayi.
Di Lampung Tengah persentase jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif yaitu 96,56% atau 24,862 bayi dari jumlah bayi 25,746 bayi. Tetapi di Kecamatan .................. sendiri persentase bayi yang mendapatkan ASI eksklusif masih rendah yaitu 44,40% atau 448 bayi dari jumlah keseluruhan 1.007 bayi bila dibandingkan dengan Gunung Sugih 52,77% dan Kota Gajah 46,01% (Dinkes Lamteng, 2003).
Penyebab utama ibu-ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dijelaskan pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Penyebab Utama Ibu Tidak Memberikan ASI

Penyebab Dikota Di Desa
Ibu Sakit 18,6% 46,7%
ASI tidak keluar 49,6% 40,0%
Ibu bekerja 19,5% 33,3%
Sumber : G.J. Ebrahim, 1986:111

Ada penyebab lain yang tidak kalah penting yang menyebabkan ibu tidak mau memberi ASI eksklusif diantara adalah puting susu ibu yang lecet, ibu mengeluh payudaranya terlalu penuh dan terasa sakit (bendungan ASI) serta mastitis, sedangkan persentase yang lebih banyak adalah masalah puting susu lecet 57%. (Soetjiningsih, 1997).
Berdasarkan data dan uraian dari latar belakang maka penulis ingin mengetahui faktor-faktor penyebab gangguan pemberian ASI pada ibu di desa .................. kecamatan ...................

B. Rumusan Masalah
Dari data yang ada pada latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu “Faktor-faktor apa yang menyebabkan gangguan permberian ASI pada ibu di desa .................. Kecamatan ..................?”.


C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Sifat penelitian : Deskriptif
2. Subyek penelitian : Ibu menyusui
3. Obyek penelitian : Faktor-faktor penyebab gangguan pemberian ASI pada ibu
4. Lokasi : Di Desa .................. Kecamatan ..................
5. Waktu penelitian : Tanggal 5 Mei - 11 Juni 2007

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang ada maka peneliti menetapkan tujuan umum dan tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab gangguan pemberian ASI pada ibu di desa .................. Kecamatan ...................

2. Tujuan Khusus
a. Diketahui faktor ibu sakit sebagai penyebab gangguan pemberian ASI.
b. Diketahui faktor ibu bekerja sebagai penyebab gangguan pemberian ASI.
c. Diketahui faktor puting susu lecet sebagai penyebab gangguan pemberian ASI.
d. Diketahui faktor bendungan ASI sebagai penyebab gangguan pemberian ASI.
e. Diketahui faktor mastitis sebagai penyebab gangguan pemberian ASI.

E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini diharapkan memberikan :
1. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat bagi mahasiswi kebidanan khususnya mahasiswi Politeknik Kesehatan Tanjung Karang Prodi Kebidanan ...................
2. Bagi Desa ..................
Diharapkan bermanfaat sebagai sumbangan pemikiran dan bahan masukan terhadap peningkatan pemberian ASI di desa .................. Kecamatan .................. Lampung Tengah.
3. Bagi Penulis
Penulis/peneliti dapat mengetahui dengan jelas tentang faktor penyebab gangguan pemberian ASI pada ibu, sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang ilmu kebidanan.

Gambaran penatalaksanaan manajemen aktif kala III oleh bidan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Mortalitas dan morbilitas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di suatu negara. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada puncak produktivitasnya Untuk pertama kalinya masalah kematian ibu dibahas dalam forum konferensi internasional di Nairobi, Kenya. Konferensi tersebut diadakan karena WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin dan kasus tersebut 50% terjadi di negara berkembang (Prawirohardjo, 2002). Survey demografi kesehatan Indonesia tahun 1994 menunjukkan angka 390 per 100.000 kelahiran hidup. SDKI 1997 angka kematian ibu sebesar 373 per 100.000 kelahiran hidup dan hasil SDKI 2002-2003 307 per 100.000 kelahiran hidup. Walaupun menunjukkan penurunan yang bermakna, target nasional untuk menurunkan AKI menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup di tahun 2010 masih jauh untuk di capai (Dinkes .................., 2005).
Tahun 2003, jumlah kematian ibu maternal yaitu 98 dari 186.248 ibu hamil dan meningkat menjadi 145 pada tahun 2004 dan tetap sama pada tahun 2005 sebanyak 245 kasus dari 165.347 kelahiran hidup (Profil Dinkes Propinsi Lampung, 2005). Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan .................. di .................. selama lima tahun terakhir yaitu tahun 2000 terdapat 1 kematian ibu dengan penyebab kematian satu kasus perdarahan postpartum (1/2.796 kelahiran hidup atau 36/100.000 kelahiran hidup), tahun 2001 terdapat 3 kematian ibu (3/2.596 kelahiran hidup). Tahun 2002 terdapat 3 kasus kematian ibu dengan penyebab kematian eklampsia, ruptur uteri dan perdarahan postpartum (3/3.212 kelahiran hidup atau 93/100.000) tahun 2003 terdapat 2 kematian ibu dengan penyebab kematian eklampsia postpartum dan perdarahan postpratum atau 73/100.000 kelahiran hidup, pada tahun 2004 terdapat 1 kematian ibu dengan penyebab kamatian perdarahan postpartum atau 34/100.000 kelahiran hidup. Tahun 2005 terdapat 2 kematian ibu dengan penyebab kematian kelainan jantung (Dinkes .................., 2007).
Menurut Depkes (2002), penyebab kematian ibu terbanyak (90%) disebabkan oleh komplikasi obstetri yaitu perdarahan (60-70%). Salah satu pencegahannya adalah dengan melaksanakan manaemen aktif kala III. Tindakan manajemen aktif kala III akan lebih efektif dalam pelepasan plasenta bila dikombinasikan dengan penarikan tali pusat terkendali.
Selama dekade terakhir, penelitian klinis telah menunjukkan bahwa menejemen aktif kala III persalinan dapat menurunkan kejadian perdarahan postpartum , mengurangi lamanya kala III. Berdasarkan hal ini maka WHO telah merekomendasikan agar semua dokter dan bidan melaksanakan manajemen aktif kala III dengan alasan bahwa dengan mempersingkat lamanya waktu kala III dapat mengurangi banyaknya darah yang hilang sehingga dapat mengurangi angka kematian dan angka kesakitan yang berhubungan dengan perdarahan (WHO-JHPIGO, 2003).

Seorang ibu dapat meninggal karena perdarahan pasca persalinan dalam waktu kurang dari satu jam. Sebagian besar kematian akibat perdarahan pascapersalinan terjadi pada beberapa jam pertama setelah kelahiran bayi. Karena alasan ini, penatalaksanaan kala III persalinan yang cepat dan tepat merupakan salah satu cara terbaik dan sangat penting untuk menurunkan angka kematian ibu, karena manajemen aktif kala III bertujuan untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat mengurangi perdarahan pascapersalinan (Depkes, 2004).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya tahun 2006 di Puskesmas Way Urang Kecamatan Kalianda Lampung Selatan, didapatkan data bahwa penatalaksanaan manajemen aktif kala III pada tahap pemberian suntikan oksitosin oleh Bidan tidak dilakukan secara sistematis dan tidak lengkap (66,67%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar Bidan memberikan suntikan oksitosin sebelum bayi lahir, dimana seharusnya pemberianya dilakuka setelah bayi lahir. Untuk tahap penegangan tali pusat secara terkendali (PTT) oleh Bidan dilakukan oleh bidan secara sistematis dan lengkap (66,67%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar Bidan telah melakukan peregangan tali pusat terkendali. Selanjutnya pada pemijatan fundus uteri (masase) oleh Bidan dilakukan secara tidak sistematis dan tidak lengkap adalah 100%. Hal ini berarti bahwa seluruh bidan melakukan masase fundus uterus sebelum bayi lahir.
Sementara pada penelitian tahun 2004 di RSUD Pringsewu diketahui 53% Bidan sudah cukup paham tentang menejemen aktif kala III dan 27% termasuk katagori kurang. Hal ini dimungkinkan karena kurangnya keterampilan Bidan dalam menerapkan manajemen aktif kala III. Sementara untuk pelaksanaannya 54% termasuk cukup, 13% termasuk katagori baik dan 33% katagori kurang.
Data prasurfey yang penulis peroleh (RSUD .................., 2006) terdapat 7 ibu meninggal di ruang bersalin RSUD .................. metro dengan PPH / Post Partum Hemoragie (2 0rang), Sepsis Post Op (1 orang), DC / Decomp Cotris Post Op (1 orang), Hepatik APP (1 orang) dan Atonia Uteri (2 orang). Sementara untuk pelaksanaan Manajemen Aktif Kala III ada yang masih belum sesuai dengan standar, misalnya kurangnya keterampilan Bidan dalam melakukan masage fundus uteri dan masih ada yang memberikan suntikan oksitosin sebelum bayi lahir di mana seharusnya dilakukan setelah bayi lahir. Hal inilah yang melatarbelakakngi penulis untuk melakukan penelitian bagaimanakah keterampilan Bidan di RSUD .................. metro dalam menerapkan Manajemen Aktif Kala III, apakah sudah sesuai dengan standar atau belum.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: ”Bagaimanakah gambaran penatalaksanaan Manajemen Aktif Kala III oleh Bidan di Ruang Bersalin RSUD .................. tahun 2007?”


C. Ruang Lingkup Penelitian
1. Jenis penelitian : Deskriptif
2. Subjek penelitian : Bidan yang bertugas di Ruang Bersalin RSUD ..................
3. Objek penelitian : Penerapan Manajemen Aktif Kala III oleh Bidan.
4. Tempat penelitian : Ruang Bersalin RSUD ..................
5. Waktu penelitian : Tanggal 6 Juni 2007 sampai 13 Juni 2007
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui gambaran penerapan Manajemen Aktif Kala III oleh Bidan di Ruang Bersalin RSUD .................. tahun 2007.
2. Tujuan khusus
a. Diketahuinya gambaran penatalaksanaan penyuntikan oksitosin pada manajemen aktif kala III oleh Bidan di Ruang Bersalin RSUD ..................
b. Diketahuinya gambaran penatalaksanaan peregangan tali pusat terkendali oleh Bidan di Ruang Bersalin RSUD ..................
c. Diketahuinya gambaran penatalaksanaan pengeluaran plasenta oleh Bidan di Ruang Bersalin RSUD ..................
d. Diketahuinya gambaran penatalaksanaan masase uterus oleh Bidan di Ruang Bersalin RSUD ..................




E. Manfaat Penelitian
Ada beberapa manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dalam penelitian ini :
1. Bagi Peneliti
Penulis mengharapkan KTI ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam penerapan mata kuliah Metodologi Penelitian khususnya bidang kebidanan, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan tentang Manajemen Aktif Kala III.
2. Bagi Lokasi Penelitian (Ruang Bersalin RSUD ..................)
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi RSUD .................. sehingga dapat meningkatkan kemampuan bidan dalam menerapkan Manajemen Aktif Kala III.
3. Bagi Bidan di Ruang bersalin RSUD ..................
Dapat memperluas wawasan Bidan, sebagai bahan masukan agar dapat lebih meningkatkan kemampuan dalam menerapkan asuhan manajemen aktif kala III.
4. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan atau referensi untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan Manajemen Aktif Kala III.

Gambaran aktivitas seksual wanita menopause

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Menurut (WHO) kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara menyeluruh meliputi asfek fisik, mental, sosial dan bukan hanya bebas dari penyakit yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan fungsinya, kesehatan reproduksi bukan hanya menambah maslaah kehamilan atau kemandulan, tetapi mencakup seluruh siklus kehidupan seorang wanita dimana dalam menghadapi siklusnya dapat mengalami berbagai problema.
Menurut Mackenzie (1992 : 13) Menopause berasal dari bahasa yunani berarti ”berhentinya haid” dan klimakterium adalah masa peralihan atua anak tangga antara tahun-tahun reproduktif dan menopause sebenarnya.
Menurut At-tharsyah (2001 : 56) Menopause merupakan masa yang kritis dalam kehidupan wanita yang umumnya dimulai pada usia antara 45-55 tahun pada tahun-tahun itu banyak terjadi perubahan fisik maupun psikis pada diri seorang perempuan. Tubuh dan jiwa harus menyesuaikandiri dengan keadaan baru, pada banyak wanita, penyesuaian ini tidak berjalan lancar dan dapat mengakibatkan banyak keluhan, misalnya banyak keringat, jantung berdebar, sakit kepala, mudah tersinggung, cepat merasa lelah dan kurang bersemangat, pada periode inilah biasanya seorang wanita telah merasa dirinya menjadi tua dan takut tidak dapat memenuhi kebutuhan seksual suami.
Hubungan seksual merupakan aktivitas fisik yang juga melibatkan faktor positif, karena itu hubungan seksual memerlukan energi dan secara fisik, tidak berbeda dengan aktivitas fisik yang lain. Hubungan seksual adalah salah satu bentuk ungkapan cinta kasih antara suami istri, juga sebagai sarana komunikasi yang sangat baik untuk mewujudkan keharmonisan sebuah rumah tangga selain untuk mendapatkan keturunan. Dan hubungan seksual juga bertujuan memberikan kepuasan fisik dan mental pada pasangan suami istri. Menurut At-Tharsyah (2001:145)
Pembangunan kesehatan telah meningkatkan status kesehatan dan gizi masyarakat antara lain meningkatkan Umur Harapan Hidup (UHH) di Indonesia dari tahun ketahun, pada tahun 1971 UHH penduduk Indonesia adalah 46,5 tahun dan pada tahun 2005 diperkirakan mencapai 68,2 tahun, disamping itu terjadi pula pergeseran umur menopause dari 46 tahun pada tahun 1980 menjadi 49 tahun pada tahun 2000. (Depkes, 2005)
Jumlah dan proporsi penduduk perempuan yang berusia di atas 50 tahun dan diperkirakan memasuki usia menopause dari tahun ketahun juga mengalami peningkatan yang sangat signifikan, berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 jumlah perempuan berusia di atas 50 tahun baru mencapai 15,5 juta orang atau 7,6% dari total penduduk, sedangkan tahun 2020 jumlahnya diperkirakan meningkat menjadi 30,0 juta atau 11,5% dari total penduduk. (Depkes, 2005)
Lebih lanjut ditegaskan, berdasarkan perhitungan statistik, diperkirakan pada tahun 2020 jumlah penduduk Indonesia dan mencapai 262,6 juta jiwa dengan jumlah perempuan yang hidup dalam usia menopause adalah sekitar 30,3 juta jiwa dari jumlah laki-laki, di usia andropause akan mencapai 24,7 jiwa. (Depkes, 2005)

Jumlah perempuan Indonesia yang memasuki masa menopause saat ini tercatat sekitar 7,4 persen dari jumlah penduduk sebanyak 214 juta jiwa, dan jumlah tersebut diperkirakan terus meningkat menjadi 14 persen pada tahun 2015 mendatang (Depkes, 2005)
Berdasarkan hasil pra survey di Desa .................. pada tanggal 20 Maret 2007 diketahui jumlah penduduknya berjumlah 430 jiwa yang terdiri dari 210 kepala keluarga dengan jumlah penduduk wanitanya 123 orang dan yang telah memasuki usia menopause berjumlah 38 orang dengan usia minimal 46 tahun dan yang masih hidup pasangannya berjumlah 27 orang juga masih terlihat harmonis. Secara umum masih tetap melakukan hubungan seksual walaupun berbeda-beda frekuensinya setiap pasangan.
Kehidupan seksual yang harmonis adalah kehidupan yang dapat dinikmati bersama, baik oleh suami ataupun istri, dalam sebuah penelitian mengenai seksualitas di AS di saat dan setelah (perubahan kehidupan) ditemukan, bahwa gairah dan dorongan seksual tidak berubah dalam 60% wanita dan 20% mengalami penurunan dorongan seksual, 20% lainnya mengalami peningkatan gairah seksual, menurut Liewellyn Jones (2005 : 445).
Frekuensi hubungan seksual sangat bergantung pada dorongan seksual, keadaan fisik dan psikis, dan kehidupan bersama kedua pihak, frekuensi hubungan seks tiap orang tidak sama, tergantung umur, untuk pria dan wanita usia 40-55 tahun, melakukan hubungan seks sebanyak 3 hari sekali, masih dikatakan dalam kategori normal sedangkan untuk pria dan wanita usia 55 ke atas, apalagi yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas, melakukan hubungan seks seminggu sekali atau sebulan sekali masih dalam keadaan normal (Ayup, 2005).
Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis tertarik untuk mengetahui gambaran aktivitas seksual pada wanita menopause yang ditinjau dari segi usia, frekuensi hubungan seksual dan kesehatan fisik.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah maka yang menjadi masalah pada penelitian ini adalah ”Bagaimana Gambaran Aktivitas Seksual pada Wanita Menopause di Desa .................. Kec. ..................” ?.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini ruang lingkup penelitian adalah sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Subjek Penelitian : Wanita yang telah menopause di Desa .................. yang penulis batasi pada usia 46 – 55 tahun dan yang masih mempunyai pasangan.
3. Objek Penelitian : Aktivitas seksual wanita menopause
4. Lokasi Penelitian : Desa .................., Kec. ...................
5. Waktu Penelitian : 6-11 Juni 2007




D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran tentang aktivitas seksual pada wanita menopause di Desa .................. Kec. ...................

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran aktivitas seksual wanita menopause di tinjau dari segi usia.
b. Untuk mengetahui frekuensi aktivitas seksual pada wanita menopause
c. Untuk mengetahui gambaran aktivitas seksual wanita menopause ditinjau dari kesehatan fisik.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Institusi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi proses penelitian selanjutnya, terutama yang berhubungan dengan menopause.

2. Bagi Wanita Menopause
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi sehingga wanita menopause dapat menjalani kehidupan seksual, yang harmonis bersama pasangannya.
3. Bagi Peneliti
Sebagai penerapan mata kuliah metodelogi penelitian dan menambah pengalaman dalam penulisan KTI.

Gambaran karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Setiap wanita menginginkan persalinan berjalan lancar dan melahirkan bayi yang sempurna (Kasdu, 2003 : iii). Hal ini sesuai dengan Rencana Strategis Nasional yang terdapat dalam pesan kunci Making Pregnancy Safer (MPS) yaitu : setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, setiap komplikasi obstetrik dan neonatal mendapatkan pelayanan yang adekuat (Koesno, 2004 : 3 ). Namun, tidak jarang proses persalinan mengalami hambatan dan memerlukan penanganan dengan ekstraksi vakum.
Ekstraksi vakum merupakan tindakan obstetrik yang bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan sinergi tenaga mengedan ibu dan ekstraksi pada bayi (Saifuddin, 2002 : 494). Tindakan ini dilakukan untuk semua keadaan yang mengancam ibu dan janin yang memiliki indikasi untuk menjalani pelahiran pervaginam dengan bantuan alat (Hartanto, 2005 : 536). Indikasi dan syarat dari tindakan ini antara lain : pada palpasi abdomen kepala tidak teraba (0/5) atau teraba (1/5) sedangkan pembukaan sudah lengkap, keterlambatan pada kala II yaitu lebih dari 60 menit pada primigravida dan 30 menit pada multigravida, dan Ibu yang menderita kelainan atau penyakit yang melarangnya untuk mengeran (mengedan), misalnya pada penyakit jantung, hipertensi, asma, atau tuberkulosis berat (Depkes RI, 1995 : 6).
Angka kejadian pertolongan persalinan dengan ekstraksi vakum di RSU Dr. Soedono Madiun tahun 1998 sebanyak 522 (22%) diantara 2362 persalinan dan angka kejadian bedah caesar sebanyak 419 (17%) (Kalbefarma). Hasil studi pendahuluan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jendral ............ didapatkan data pada tahun 2006 terdapat 7,99% (37) kasus persalinan dengan ekstraksi vakum dari 463 persalinan normal (Medical Record, 2006). Ini berarti tindakan ekstraksi vakum masih sering dilakukan.
Penanganan persalinan dengan ekstraksi vakum mempunyai dampak terhadap ibu dan bayi. Pada ibu dapat terjadi robekan pada serviks uteri, robekan pada dinding vagina dan perenium. Ini dapat terjadi apabila pada pembukaan belum lengkap dilakukan ekstraksi. Sedangkan pada bayi dapat terjadi perdarahan dalam otak dan kaput suksedaneum artifisialis yang akan hilang sendiri setelah 24-48 jam. Untuk mengatasi hal itu maka tindakan ekstraksi vakum sebaiknya dilakukan oleh tenaga yang terampil dan berpengalaman (Depkes RI, 1995 : 10). Apabila tindakan ini dianggap tidak aman atau ekstraksi ini gagal dapat dilakukan seksio sesaria (Hartanto, 2005 : 551).
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : “Gambaran Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Ekstraksi Vakum di Rumah Sakit Umum Daerah Jendral RSUD ............ pada Tahun 2006”.


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut : “Bagaimana gambaran karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum di RSUD RSUD Kota ............ Tahun 2006 ?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi ruang lingkup penelitian sebagai berikut:
1. Jenis penelitian : deskriptif.
2. Subyek penelitian : ibu bersalin dengan ekstraksi vakum di RSUD
............ tahun 2006.
3. Obyek penelitian : karakteristik ibu-ibu bersalin dengan ekstraksi vakum di RSUD ............ yang meliputi: riwayat penyakit ibu, usia, paritas, dan lama persalinan kala II.
4. Lokasi penelitian : ruang kebidanan di RSUD ............
............ tahun 2006.
5. Waktu penelitian : bulan Mei tahun 2007.



D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum di Ruang Kebidanan RSUD ............ pada tahun 2006.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum berdasarkan riwayat penyakit ibu di Ruang Kebidanan RSUD ............ tahun 2006.
b. Untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum berdasarkan usia ibu di Ruang Kebidanan RSUD ............ tahun 2006.
c. Untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum berdasarkan paritas ibu di Ruang Kebidanan RSUD ............ tahun 2006.
d. Untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum berdasarkan lamanya persalinan pada kala II di Ruang Kebidanan RSUD ............ tahun 2006.


E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Sebagai bahan informasi untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tentang ekstraksi vakum dan karakteristik ekstraksi vakum dan karakteristiknya baik bagi ibu maupun bagi Prodi Kebidanan .............
2. Sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan mutu pelayanan Antenatal Care (ANC) khususya deteksi dini kehamilan dengan resiko tinggi yang dapat menyebabkan terjadinya persalinan dengan ekstraksi vakum bagi RSUD ............ dan Dinas Kesehatan Kota ............ pada khususnya serta tenaga kesehatan pada umumnya.
3. Mengembangkan pengetahuan penulis tentang ekstraksi vakum dan metode penelitian diskriptif tentang karakteristik resiko terjadinya persalinan dengan ekstraksi vakum.
4. Bagi peneliti lainnya, sebagai pertimbangan dan masukan untuk melakukan penelitian selanjutnya tentang ekstraksi vakum dengan jenis penelitian lain dan penambahan variabel penelitian yang lebih lengkap, dan metode penelitian yang berbeda.

Delete this element to display blogger navbar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls